Rabu, 23 November 2022

Kosong dalam Senja 

 Oleh Junita Susanti


Kosong. Apa sesungguhnya kosong itu? Angka nol-kah? Ya...., Kosong identik dengan angka nol, akan tetapi kosong tak selalu mewakili angka nol, bergaris di pinggir namun bagian tengah bolong. Kosong ternyata memiliki berjuta makna. Tatapan kosong, pikiran kosong, pembicaraan kosong, hati kosong, perut kosong, rumah kosong, dan masih banyak kosong yang lain. Mungkin kosong seperti yang satu ini.

Ia berjalan dengan langkah yang gontai. Kakinya yang rata menapaki jalan yang tak rata. Kerikil berserakkan dimana-mana seolah-olah mewakili tulang-tulang yang juga tampak berserakan di tubuhnya yang seperti lidi itu.

Ya, jalan yang jelek memang membuat seringnya terjadi kecelakaan. Namun pria kosong itu tak peduli dengan jalan yang jelek itu. Ia meneruskan langkahnya menyusuri jalan gang yang kosong.

Tak lama kemudian, tibalah ia dipinggir jalan yang tak kosong, kendaraan hilir mudik di depannya. Kantongnya kosong, ia naik angkutan umum yang juga kosong.

Ya..., Jelas saja kosong, waktu masih menunjukkan pukul sebelas pagi. Manusia masih dalam aktivitasnya masing-masing. Ia akan menemukan angkutan umum yang tidak kosong jika ia berpergian pukul tujuh pagi atau pukul lima sore yang merupakan jam sibuk.

Angkot yang ia naiki mengurangi kecepatan melewati polisi tidur.  Tiba-tiba ia turun dengan tangan kosong. Sopir angkutan hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Sopir tersebut tak mendapatkan uang. Ia tertunduk lesu memandang kantongnya yang kosong. Ia pun melanjutkan perjalanannya mencari penumpang yang tak kosong untuk mengisi perutnya yang kosong.

Pria itu duduk di tepi jalan. Sorot matanya kosong menatap air selokan yang berharap kosong. Tentu saja selokan tak pernah kosong. Sampah berserakan menebarkan bau busuk. Pria itu tak menghiraukan bau tajam yang mampu merontokkan bulu hidungnya. Mungkin juga ia tak paham dengan jenis-jenis wewangian, karena ia merupakan jiwa yang kosong.

Pria itu entah siapa namanya. Tak jelas asal-usulnya, yang kuingat, aku mulai melihatnya sejak dua tahun lalu. Sebulan setelah badai besar yang terjadi di laut. Badai tersebut banyak memakan korban, korban jiwa maupun materi. Perahu bahkan kapal nelayan luluhlantak dibuatnya. Peristiwa ini sempat membuat harga ikan dan melambung di pasar.

***

Matahari begitu terik ketika aku pulang sekolah. Aku mempercepat langkah kaki  agar tidak terlalu lama disengat matahari.  Kudukku sedikit bergindik ketika melewati sebuah rumah besar  di dalam gang rumahku. Meskipun siangharu tetap saja aku merasakan suasana horor.

Rumah bewarna putih itu sudah la,a tak berpenghuni. Rumah itu tak terawat. Warna temboknya mulai pudar. Kusen  jendela dan pintu mulai berguguran dimakan rayap. Di dalam rumah rumput liar tumbuh dengan subur. Di bagian halaman depan rumah terdapat pohon mangga dan rambutan yang sudah tua. Setiap tahun mereka berbuah sangat lebat. Akan tetapi tak seorangpun berani memetik buahnya. Konon, siapapun yang berani memetik buah tersebut akan kerasukkan roh penghuni rumah terdahulu yang mati karena bunuh diri. Bahkan, konon beberapa warga pernah melihat hantu di sekitar rumah ini. Benar atau tidaknya cerita ini, wallahuálam.

Seorang pria menarik-narik rambutnya di teras rumah itu. Cahaya matanya yang redup tak sebanding dengan matahari yang kian bercahaya. Dilihat dari penampilannya, aku menduga pria itu berjiwa kosong.

***

Hari ini aku bangun lebih pagi dari biasanya. Aku merapikan tumpukkan surat kabar di teras. Ayahku memang selalu begitu, selalu lupa untuk merapikannya. Hal inilah yang kemudian menjadi bahan omelan ibuku.

Ketika sedang asyik membereskan lembar demi lembar surat kabar tersebut, mataku tertuju pada satu kolom kecil yang bertuliskan 'TABRAK LARI'. Aku terenyuh setelah membacanya. Pria kosong yang sering kulihat itu telah menjadi korban tabrak lari kemarin sore. Beritu tersebut diletakkan di pojok kecil surat kabar, membuat pembaca sulit menemukannya.

Ya Tuhan,,,, pria kosong itu telah pergi meninggalkan dunia yang tak kosong ini dengan jiwa yang kosong.

***

Senja telah tenggelam di ufuk barat. Dalam keremangan itu, seorag gadis kecil berjalan menyusuri Pantai Tapak Paderi. Tangan kurusnya memegang botol bekas yang telah ia potong. Botol bekas itu kosong. Wajahnya memerah. Peluh mengalir hingga ke lehernya. Kulitnya yang dulu berwarna kuning langsat kini menjadi legam terbakar matahari.

Gadis ini tiba di sebuah rumah kecil yang kosong. Gelap. Sang gadis meraih lilin di dekat jendela, lalu menghidupkannya. Ia pun terlentang di atas tikar tua. Matanya  langsung terpejam dan terbangun  kembali oleh lantunan azan yang menggema.

Ia tak menghiraukan panggilan sang pencipta itu. Ia melanjutkan tidurnya. Entah kapan terakhir sang gadis bertegur sapa dengan-Nya. Barangkali ia sudah lupa. Atau mungkihkah lima tahun yang lalu? Ketika ibu sang gadis dipanggil-Nya...

Matahari pagi mulai mengintip ke dalam rumah melalui celah-celah kecil. Deburan ombak Pantai Tapak Paderi terdengar jelas di telinga si gadis. Udara pagi menusuk kulitnya. Ia bangkit dan melangkahkan kaki menuju bibir pantai.

Kakinya yang hitam menginjak pasir yang putih. Tinjak  kakinya tersisah di atas pasir yang telah ia lalui. Ia tiba di bibir pantai. Menghadap ke laut biru. Angin berhembus menerpa tubuhnya. Suara angin dan ombak seolah berlomba menyapanya.

Pantai Tapak Paderi memang sudah sangat bersahabat dengannya.

Pantai Tapak Paderi merupakan salah satu bagian dari pantai yang membentang sepanjang tujuh kilometer di Kota Bengkulu. Ia terletak di antara Pantai Panjang dan Pantai Jakat. Pantai Tapak paderi, Pantai Panjang, merupakan simbol wisata Provinsi Bengkulu.

Pantai Panjang adalah pantai yang begitu indah dengan pasir putih dan laut biru yang memukau. Deretan pohon pinus dan pohon cemara di pinggir pantai begitu memesona. Pantai pangjang dapat dijadikan destinasi berlibur di akhir pekan. Suasananya tenang dan damai.

Lain halnya dengan dengan Pantai Panjang, nafas kehidupan begitu terasa di Pantai Tapak Paderi. Hiruk pikuk manusia terlihat di sini. Deretan perahu nelayan menjadi suatu pemandangan yang khas. Di samping itu, warga kampung nelayan ini juga menjajakkan aneka hasil laut, baik yang masih mentah maupun yang sdah di olah. Jika berkunjung ke Bengkulu tak lengkap rasanya jika belum menikmati keindahan alam pantainya.

Gadis kecil itu membiarkan air pantai menyentuh kakinya. Matanya memandang laut lepas. Wajahnya penuh harap. Ia berharap perahu nelayan datang. Ya, perahu ayahnya.

Jika dari kejauhan ia melihat perahu sang ayah, ia akan melambaikan tangan.  Ayahnya  akan melempar senyuman. Setelah ayahnya tiba di darat, ia membantu ayah membawa hasil laut yang berhasil ditangkap. Lalu, ikan-ikan itu akan dijual  ibunya di pasar ikan.

Sudah dua tahun sang gadis setiap pagi menuju pantai. Hujan badai ia tak peduli. Ia tetap menunggu ayahnya pulang dari melaut. Namun,  juga ayahnya tak kunjung datang. Sudah tahun ayahnya tak muncul di bibir pantai. Begitu pun hari ini. Ayahnya tak juga muncul. Ia pulang dengan hati yang kosong.

***

 Cik Saripah yang bertubuh gempal itu serupa pisang ambon dengan balutan daster kuningnya. Ia yang sedang asyik menjemur pakaian terhenti melihat si gadis lewat. Secepat kilat ia masuk ke rumahnya dan muncul kembali dengan membawa bungkusan.

 "Oii..., gadis dari mano kau?"

Sang gadis tak memberi respon. Cik Saripah mendekatinya. "Iko na, sarapanlah dulu."

Dengan tatapan kosong, mengambil bungkusan itu dari tangan Cik Saripah. Lalu pergi tanpa suara. Cik Saripah kembali melanjutkan pekerjaannya.

Ia sudah terbiasa dengan sikap sang gadis. Sudah dua tahun ini ia memberi sang gadis makan meskipun sering ditolak.

 "Sayo sudah makan Cik."

 "Sayo masih kenyang Cik"

Kalimat-kalimat itulah yang kerap muncul dari mulut mungil sang gadis ketika Cik Saripah mengantarkan makanan ke rumahnya. Jika sang gadis tak terlihat ia akan khawatir. Bagaimana pun juga ia menyayangi sang gadis seperti anaknya sendiri. Ia kasihan terhadap sang gadis. Di usianya yang masih kecil ia sudah kehilangan ibu. Dan sekarang ayahnya entah dimana. Berulang kali ia mengajak sang gadis untuk tinggal di rumahnya. Tetapi tetap saja ditolak.

***

Ah...  Ayah, rupanya kau tak pulang hari ini. Apa air laut pasang? Atau kau tak berani pulang karena ikan sedang tak bersahabat denganmu? Tak apa Ayah, walaupun kau hanya membawa ikan slengek, aku sudah senang. Aku hanya ingin ayah pulang. Baik..., baiklah, hari ini aku cukup kecewa Ayah, tapi esok aku akan menggumu lagi.

Ayah, pulanglah. Aku rindu saat kita menikmati senja bersama. Kau bilang senja di Pantai Tapak Paderi adalah yang terelok. Ayah, kau berjanji padaku akan membelikan papan surfing. Kau bilang aku akan menjadi surfer terhebat di Bengkulu nantinya. Apa Ayah sudah lupa janji itu? Baiklah Ayah, aku akan mengingatkanmu kembali.

Waktu itu, kita tengah mennati senja datang. Sembari menunggu, kita melihat para surfer beraksi di Pantai Paderi. Aku sangat antusias. Aku bertepuk dan bersorak melihat para surfer itu berhasil meliuk-liuk dalam irama ombak. Aku pun meliuk-liuk menirukan

gaya mereka. Ayah tersenyum melihat tingkahku.

"Wai..., Yah, padek nian orang itu!" tunjukku kepada seorang surfer yang sukses kutiru liukannya.

"Orang itu rajin latihan. Itulah dio padek. Nah, cubo tengok di ujung tu, Dek, nang itu

lebih padek lagi!"

Mataku mengikuti arah jari telunjuk ayah. Dari kejauhan kulihat sang surfer berhasil mendapatkan ombak yang besar. Ketika ombak berjarak kurang lebih tiga meter darinya, ia membalikkan tubuhnya. Meliuk dalam balutan ombak. Aku tak henti bertepuk tangan.

"Yah, adek jugi endak jugo bisa cak itu!"

"Adek harus belajar dulu. Tunggu Ayah balik dari melaut, kelak ayah belikan papan surfing..."

"Yeee.....!" aku sangat girang.

Ayah, aku harap kau tak lupa janji itu.

Ah, senja..., kau datang lagi. Setiap sore kau selalu datang ke rumahku. Kau datang sendiri saja. Mengapa kau tak kau bawa ayahku? Ah, mungkin kau tak bisa membawa ayahku. Baiklah, aku yang akan menjemputnya. Kau tunggu saja.

Ah, senja..., aku benci padamu. Aku benci melihatmu. Kau selalu mengingatkanku pada ayah. Tapi, mengapa kau selalu memanggilku untuk menemuimu? Apa gunanya aku menemuimu jika ayah tak bersamamu? Tapi, tunggu dulu, mengapa wajah emasmu selalu merayuku? Dengan langkah malu-malu aku menemuimu.

Sang gadis berjalan menuju bibir pantai. Lalu ia duduk di atas bebatuan.

Senja telah kembali ke peraduannya. Malam mulai mengepakkan sayap. Orang-orang mulaiberanjak dari tempat duduknya meninggalkan Pantai paderi. Tapi tidak dengan sang gadis. Ia masih di sana walaupun senja telah menghilang dibalik laut yang beriak tenang.

 Berlahan tak ada lagi cahaya senja di laut. Laut menjadi gelap, yang terlihat hanya kerlap-kerlip lampu kapal nelayan dari kejauhan. Entah apa yang dipikirkan snag gadis, tiba-tiba ia menjatuhkan tubuhnya ke laut. Tubuhnya tenggelam seketika. Tak seorangpun yang melihat.

***

Pagi-pagi sekali Cik Saripah mendatangi rumah sang gadis untuk mengantarkan makanan. Namun, rumah itu kosong. Kecemasan mulai meyelimutinya. Kecemasa itu tiba-tiba berubah menjadi kesedihan ketika para nelayan membawa sesosok wajah yang dikenalnya. Tangisnya pun pecah.

Tanpa sang gadis ketahui. Di belahan kota Bengkulu lainnya, pria kosong telah lama meninggalkan dunia ini. Meninggalkan sang gadis, anaknya.

Kini, gubuk reot dibalik megahnya Benteng Marlborough itu benar-benar kosong. Dua senja telah merenggut dua manusia.

  

Catatan: Cerpen Kosong dalam Senja ini diambil dari antologi cerpen karya FLP Bengkulu yang berjudul Sebait Kisah dari  Bengkulu. Selamat mengerjakan tugas :)

Jumat, 29 Juli 2022


      Supaya dapat mengamati benda-benda di langit, dibutuhkan alat canggih yang disebut teleskop. Teleskop merupakan sebuah teropong besar yang digunakan di dalam astronomi. Ilmu astronomi mempelajari benda-benda di langit.  Banyak orang berpendapat bahwa dalam ilmu astronomi dibutuhkan teleskop yang mahal dan berteknologi tinggi untuk dapat mengamati benda- benda langit. Padahal, teleskop sederhana dapat dibuat dan pengamatan sederhana pun dapat dilakukan.

       Teleskop sering kali disebut teropong bintang atau teropong astronomi. Teropong jenis ini memiliki dua lensa cembung yakni lensa objektif dan lensa okuler. Jarak fokus lensa objektif lebih besar dari jarak fokus lensa okuler. 

      Dasar kerja teropong objek adalah benda yang diamati berada di tempat yang jauh tidak terhingga, berkas cahaya datang berupa sinar-sinar yang sejajar. Lensa objektif terletak di dekat objek. Lensa objektif merupakan lensa cembung yang mampu memperbesar bayangan dan bersifat nyata, diperkecil, dan terbalik. Sedangkan lensa okuler terletak di dekat observer dan bayangan yang dibentuk bersifat maya, terbalik, dan diperbesar. 

       Untuk membuat teleskop sederhana kita memerlukan bahan dan alat berikut ini. 

1. Lensa objektif LUP (kaca pembesar), lensa cembung praktikum (biasa dijual di toko alat laboratorium)  dengan diameter 5 cm.

2. Pipa PVC dan perlup (sambungan pipa) dengan panjang kira-kira 30 cm.

3. Perkakas seperti gergaji kecil dan lem perekat.

4. Lensa okuler (bisa menggunakan lensa binokuler atau lensa mikroskop) bisa juga dengan membeli       lensa di toko alat laboratorium dengan diameter 2,5 cm.

         Ada pun cara pembuatan teleskop adalah sebagai berikut.

1. Tentukan panjang badan teleskop dahulu dengan rumus fisika yang sudah kita ketahui yaitu f (ob) + f (ok) = L.

2. Potonglah pipa PVC yang panjangnya sudah diketahui.

3. Letakkan lensa objektif ke dalam sambungan pipa, lalu sambungkan sambungan pipa yang sudah berisi lensa tadi di ujung paling depan pipa PVC yang sudah diukur. Ingat, lensa objektif selalu terletak di depan lensa okuler, pasangkan perlup di ujung paling belakang pipa. 

4. Pasangkan perlup di ujung paling belakang pipa.

5. Letakan lensa okuler di perlupnya.

       Setelah melalui langkah -langkah di atas, sekarang teleskop sederhana sudah dapat digunakan untuk mengamati benda-benda langit, seperti kawah bulan atau planet-planet terdekat. Teleskop sederhana dan murah ini dapat kamu gunakan untuk mengamat benda-benda yang jaraknya cukup jauh.

        Untuk mengamati benda-benda langit yang jaraknya jauh ternyata tidak selalu harus menggunakan alat yang canggih dan mahal. Kamu cukup menggunakan benda-benda yamg mudah didapatkan. Sebelum melakukan pengamatan, ada baiknya kamu melihat waktu terbit dan tenggelam serta arah objek yang akan diamati. 


Sumber: Modul Bahasa Indonesia Untuk SMP/MTs Kurikulum 13 dengan sedikit perubahan.

Jumat, 04 Juni 2021


Sebetulnya saya tidak asing dengan penampakan bunga telang. Waktu kecil, di kampung saya, bunga ini tumbuh liar di pinggir jalan. Tidak ada yang memperhatikannya. Jika mengganggu pekarangan rumah maka tumbuhan menjalar ini akan langsung dibabat habis.Saya (kecil) pun sering memetik bunga ini dalam perjalanan pulang sekolah untuk dimainkan. Lumayan untuk menghilangkan rasa bosan saat berjalan pulang ke rumah. Maklumlah, jarak antara rumah dan sekolah cukup jauh. Tanaman telang cukup menghibur.

Dilihat sekilas, buah bunga telang ini mirip dengan kacang polong. Saya tidak tahu, apakah buah atau kacangnya ini dapat dikonsumsi atau tidak, yang jelas meminum teh bunga telang merupakan pengalaman pertama saya. 

Saat itu saya sedang berkujung ke rumah kakak. Saya melihat ada air berwarna biru seperti pertalite di atas meja makan. Saya pikir itu adalah air sirup. Namun ternyata bukan. Kakak saya mempersilahkan saya untuk mencicipinya. Saya pun menuangkannya ke dalam gelas dan meneguknya dengan sedikit keraguan. Takut di-prank... hehe

Waw... ternyata tidak ada rasa sama sekali. Sama persis sepeti ketika minum air putih. Aromanya pun tidak ada. 

Ternyata, bunga telang ini hanya mengubah warna airnya saja, tidak dengan aroma dan rasanya. Belakangan saya juga melihat bunga telang ini dicampur juga ke dalam masakan, seperti kue  misalnya. Warna yang cantik membuat makanan yang dicampur ekstrak bunga telang semakin terlihat menarik. Ya, tanaman telang dapat digunakan sebagai pewarna makanan alami.

Air Rendaman Bungan Telang yang Warnanya Mirip Pertalite

Terlepas dari warnanya yang cantik, ternyata bunga telang memiliki banyak manfaat (diceritakan kakak saya). Salah satu manfaat bunga telang adalah untuk mencegah radikal bebas. Tentu saja, dalam keseharian kita sering mengkonsumsi pestisida. Ya, rata-rata sayuran-sayuran atau buah-buahan yang kita konsumsi tersebut menggunakan pestisida dalam perawatannya. Nah, ekstrak bunga telang ini paling tidak mengurangi kadar pestisida yang masuk ke dalam tubuh kita. 

Di rumah kakak saya, bunga telang ini sering dijadikan teh. Bunga telang yang segar dipetik lalu dijemur di bawah terik matahari hingga benar-benar kering. Lama penjemuran bergantung cuaca. Bisa jadi 2-3 hari. Setelah kering bunga telang diangkat lalu dimasukan ke dalam toples untuk disimpan. Saat ingin meminumnya, tinggal dituang ke dalam air hangat deh. Dan, taraaa.... air putih tadi akan berubah menjadi biru.  Oh iya, agar awet disimpan, menjemurnya harus benar-benar kering ya!

Kakak saya menanam bunga di telang di pagar rumah. Ternyata bagus juga. Selain berfungsi sebagai tanaman hias, dapat juga diambil manfaatnya. Ya, ibarat sambil menyelam minum air. Saya pun berkeinginan untuk menanam juga di pagar rumah. 

Tanaman Telang Tumbuh Subur di Pagar Rumah

Rupanya, di beberapa rumah di kota tempat saya tinggal sebagian orang sudah menanam tumbuhan telang. Hal ini saya temukan saya beberapa kali berkunjung ke rumah teman atau sekedar melihat saja dipekarangan rumah orang. Ya, mungkin memang di kota sudah lama orang-orang tahu manfaatnya dan menanam  di pekarangan rumah. Hanya saja saya kurang perhatian selama ini sehingga terkejut mengetahui tumbuhan yang sering saya injak semasa kecil kaya akan manfaat. 

Sudah lama saya tidak menginjakkan kaki di kampung kelahiran. Sejak pindah sekolah dari kelas 4 SD, saya memang jarang mengunjungi tempat pertama kali saya melihat bunga telang. Dulu namanya pun saya tidak tahu. Bahkan tidak perduli.

Hmmm.... sekarang, Apakah tumbuhan telang di sana masih ada? Apakah anak-anak masih memainkannya seperti saya dulu? Entahlah.

Selasa, 24 Maret 2020

Jika di Provinsi Bengkulu ada Rumah Bung Karno, Maka di kota Bukittinggi ada Rumah Bung Hatta.

Rumah Bung Hatta telah diperbarui. Gagasan pembangunan kembali (rekonstuksi) rumah ini bermula dari ketua yayasan Pendidikan Nusantara (sekarang bernama Yayasan Pendidikan Bung Hatta) yang mengelola universitas yang memakai nama besar Bung Hatta. Setelah sekian lama tertunda baru pada bulan September 1994, lahan rumah tersebut dapat dibebaskan oleh pemerintah daerah kota Bukittinggi.

Pada bulan November 1994 sampai dengan Januari 1995 dimulailah penelitian untuk mendapatkan bentuk rumah yang dibangun. Didasarkan kepada foto yang ada  dalam memoar Bung Hatta dan beberapa foto yang masih disimpan oleh keluarga, maka mulailah  menginterpretasikannya ke dalam gambar perencanaan.

Rumah Bung Hatta yang terbuat dari struktur kayu diperkirakan dibangun tahun 1860-an dan mengalami masa pasang surut secara fungsi dan fisik karena sudah tua dan runtuh pada tahun 1960-an. Sebelum dibeli oleh Haji Sabar, bangunan belakang rumah tersebut masih berfungsi dan dihuni oleh beberapa keluarga secara bergantian.


Pelaksanaan pembangunan baru dimulai pada tanggal 15 Januari 1995 dan diresmikan pada tanggal 12 Agustus 1995, yang bertepatan dengan hari kelahiran Bung Hatta dan peringatan 50 tahun Indonesia merdeka. Pembangunan rumah ini menghabiskan 266 meter persegi sasak dari batuang (bambu) yang didatangkan khusus dari Batusangkar, 525 meter persegi tadir pariang dari Payakumbuh, 75 meter kubik kayu banio tampuruang dari Muara Labuh, kayu Ruyuang, 1600 zak semen Indarung, 336 meter kubik pasir pasang, 138 meter kubik batu kali dari Padang Tarok, 25.000 batu bata bata dari Payakumbuh serta material pendukung lainnya.


Untuk kelengkapan rumah seperti kunci-kunci, grendel dan tiang kuno didapat dari berbagai pihak dan berbagai pihak dan masyarakat sekeliling, sehingga tampilan rumah ini mendekati aslinya. 

Saya berada di kota Bukittinggi selama kurang lebih satu bulan. Di sela-sela berkegiatan di kota sejuk ini saya menyempatkan diri berkunjung ke Museum Rumah Bung Hatta.


Oh iya, tulisan saya kali ini menyambung cerita tentang Bung Hatta. Lepas menyelesaikan studi di Belanda, Bung Hatta kembali ke Indonesia.

Pada tahun 1934, setelah Soekarno dibuang ke Ende, Pemerintah Kolonial Belanda mengalihkan perhatiannya pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia asuhan Bung Hatta.

Baca Juga: Menjejaki Kehidupan Bung Hatta Melalui Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta (Bagian 2)

Masa Pembuangan
Dalam pembuangan, Bung Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat kabar Pemandangan. Honoriumnya cukup untuk biaya hidup di tanah pembuangan dan beliau dapat pula membantu kawan-kawannya. Rumahnya di Boven Digoel dipenuhi oleh buku-bukunya yang khusus dibawa dari Jakarta sebanyak 16 peti.


Dengan demikian Bung Hatta mempunyai cukup bahan untuk mmeberikan pelajaran kepada kawan-kawannya di pembuangan mengenai ilmu ekonomi, sejarah, dan filsafat. Kumpulan bahan-bahan pelajaran itu di kemudian hari dibukukan dengan judul-judul di antaranya Pengantar ke Jalan Ilmu dan Pengetahuan dan Alam Pikiran Yunani.

Pada bulan Desember 1935, Kapten Wiarda, pengganti Van Langn, memberitahukan bahwa tempat pembuangan Hatta dan Sjahrir dipindahkan ke Bandaneira. Mereka bertemu Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusumasumantri.


Kembali ke Jawa
Pada tanggal 3 Februari 1942, Bung Hatta dan Sjahrir dibawa ke Sukabumi. Pada tanggal 9 Maret 1942, pemerintahan Hindia Belanda menyerah kepada Jepang dan pada tanggal 22 Maret 1942 Bung Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta. Selama pendudukan Jepang, Bung Hatta diminta untuk bekerjasama  sebagai penasehat. Karena Jepang berjanji memerdekakan Indonesia. Namun, Bung Hatta mengetahui bahwa kemerdekaan Indonesia dalam pemahaman Jepang berbeda dengan pengertiannya sendiri. Pengakuan Indonesia merdeka bagi Jepang perlu bagi Bung Hatta sebagai senjata terhadap sekutu kelak. Bila Jepang yang fasis itu mau mengakui, apakah sekutu yang demokratis tidak akan mau?

Karena itulah maka Jepang selalu didesaknya untuk memberi pengakuan tersebut, yang baru diperoleh pada bulan September 1944. Selama masa kependudukan Jepang, Bung Hatta tidak banyak bicara. Namun, pidato yang diucapkan di Lapangan Ikada (Sekarang Lapangan Merdeka) pada tanggal 8 Desember 1942 menggemparkan banyak kalangan. Beliau mengatakan "Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Oleh karena itu beliau tak ingin Indonesia menjadi negeri jajahan kembali. Tua dan muda merasakan setajam-tajamnya. Kepada pemuda Indonesia beliau menekankan lebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan dari pada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali".


Hari Kemerdekaan Indonesia
Tanggal 16 Agustus 1945, para pemuda menculik Soekarno-Hatta dan membawa mereka ke Rengasdengklok. Tujuaannya ialah untuk mengamankan kedua tokoh ini dari pengaruh luar agar bersedia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Setelah seharian di Rengasdengklok kedua tokoh ini akhirnya menyetujui tuntutan pemuda, pada pukul 23.00 mereka dibawa ke Jakarta, tepatnya ke rumah Laksamana Maed. Di sinilah naskah proklamasi disusun Bung Hatta dengan Mr. Achmad Soebarjo, ditulis oleh Soekarno dan diketik oleh Sayuti Melik. Setelah naskah proklamasi selesai disusun, timbul pertanyaan siapa baiknya yang menandatangani. Atas usul dari Soekarni diputuskan Soekarno-Hatta saja yang menandatangi proklamasi tersebut.


Bung Hatta Menjadi Wakil Presiden
Pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pengangsaan Timur 56 tepatnya pukul 10.00 kemerdekaan Indonesia diproklmasikan oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indoensia. Keesokan harinya, pada tanggal 18 Agustus 1945 Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Hatta sebagai Wakil Presiden dan pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan itu dikukuhkan oleh KNIP.

Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
Sebelum proklamasi Belanda telah bersiap-siap untuk kembali ke Indonesia karena Belanda beranggapan bahwa Indonesia masih bagian dari kerajaan Belanda. Sebagai langkah awal tentara Belanda (NICA) membonceng bersama tenatara sekutu yang datang untuk menerima serah terima Negeri Jajahann dari Jepang. Tentara sekutu yang datang disambut dengan perlawanan oleh rakyat Indonesia. Pemerintah Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yokyakarta. Dua kali perundingan dengan Belanda menghasilkan Perjanjian Linggar Jati dan Perjanjian Renville, namun selalu berakhir dengan kegagalan karena kecurangan yang dilakukan oleh pihak Belanda.


Pada Juli 1947, Bung Hatta pergi untuk mencari dukungan luar negeri. Beliau pergi ke India dan menemui Jahwaharlal Nehru dan Mahatma Gandi. Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan protes dan mengajukan resolusi kepada PBB agar Belanda dihukum. Pada tanggal 27 Desember 1949 di Den Haag, Bung Hatta yang mengetuai Delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar untuk menerima pengakuan kedaulatan Indonesia dari Ratu Juliana. Bung Hatta juga menjadi perdana menteri waktu Negara Republik Indonesia Serikat berdiri. Selanjutnya, setelah negara RIS menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bung Hatta Kembali menjadi wakil presiden.

Bapak Koperasi Indonesia
Bung Hatta aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan tinggi. Ia juga tetap menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi. Dia juga aktif membimbing gerakan koperasi untuk melaksanakan cita-cita dalam konsepsi ekonominya. Pada tanggal 12 Juli 1951, Bung Hatta mengucapkan pidato radio untuk menyambut Hari Koperasi di Indonesia. Karena besarnya aktivitas dalam koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 ia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada kongres Koperasi Indonesia di Bandung. Pikiran-pikirannya mengenai koperasi antara lain dtuangkan dalam bukunya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971). Pada akhir tahun 1956, Bung Hatta tidak sejalan lagi dengan Soekarno karena ia tidak ingin memasukan unsur komunis dalam kabinet waktu itu. Sebelum ia mundur, ia mendapat gelar Doctor Honouris Causa dari Universitas Gajah Mada Yokyakarta. Sebenarnya gelar tersebut ingin diberikan pada tahun 1951. Namun gelar tersebut baru diberikan pada 27 November 1956. Demikian pula Universitas Indonesia pada tahun 1951 telah menyampaikan keinginan itu tapi Bung Hatta belum bersedia menerimanya. Dia berkata, "Nanti saja kalau saya telah berusia 60 tahun."


Mengundurkan Diri
kemudian pada 1 Desember 1956, Hatta memutuskan untuk berhenti sebagai waki presiden RI.

Bung Hatta beserta keluarganya lalu pindah ke Jalan Dipenegoro. Ketika memindahkan barang-barang ke rumah barunya, yang mula-mula diangkut beliau bukan perabot rumah tangganya melainkan buku-bukunya. Dari Jalan Merdeka Selatan 13, buku itu diikat jadi satu dalam tumpukan-tumpukan yang sesuai urutan semula dan sebagian bukunya dimasukan ke dalam peti-peti aluminium yang masih tersimpan.

Wafat
Bung Hatta wafat pada tanggal 14 Maret 1980 pukul 18.56 di RS. Cipto Mangunkusumo Jakarta setelah sebelas hari dirawat. Selama hidupnya Bung Hatta disemayamkan di kediamannya Jalan Dipenegoro 57, Jakarta dan disemayamkan di tengah-tengah rakyat yang beliau perjuangkan kemerdekaannya. Pemakaman beliau dilangsungkan dengan upacara kenegaraan yang dipimpin secara langsung oleh Wakil Presiden pada saat itu, Adam Malik. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Proklamator pada tahun 1986 oleh pemerintahan Soeharto dan gelar Pahlawan Nasional yang dituangkan dalam Keppres no. 84/TK/2012 di masa pemerintahan presiden SBY.

Sumber tulisan ini diambil dari buku saku yang saya dapatkan saat berkunjung ke tempat ini.  













Sabtu, 08 Februari 2020

Jika mendengar nama Sumatera Barat, maka yang lekat dalam ingatan kita pastinya rendang. Ya saya sangat suka makan rendang. Apalagi rendang nasi kapau di Pasar Ateh Bukittinggi. Lezatoss...

Namun, tidak hanya identik rendang, Sumatera Barat identik juga dengan Bapak Wakil Presiden RI yang pertama, yaitu Muhammad Hatta.
Bagian depan Museum Rumah Bung Hatta


Ya, tepatnya di kota Bukittinggi-lah bapak ekonomi Indonesia ini dilahirkan. Saya pernah membaca buku karangan Dr. Deliar Noer yang berjudul Mohammad Hatta: Hati Nurani Bangsa. Sedikit banyak saya sudah mengetahui profil Bung Hatta dari buku tersebut. 

Tiba di Bukittinggi, saya langsung tertarik untuk mengunjungi museum Bung Hatta. Terlebih lagi, saat saya sedang berjalan kaki menuju Jam Gadang, di jalan, saya melihat patung Bung Hatta yang begitu besar. Di depannya terdapat tulisan Taman Monumen Bung Hatta Bukittinggi. Di depan Taman Monumen ini terdapat juga gedung yang bertuliskan Museum Bung Hatta. Wah, saya semakin tak sabar ingin melihat pernak-pernik yang berhubungan dengan Bung Hatta.
Ruang Tamu di Lantai Dasar 

Sepulang berbelanja di area wisata Jam Gadang, saya menyebrangi jalan dan menuju gedung  yang bertuliskan Museum Bung Hatta. Saya pikir, di sanalah saya dapat mengetahui kehidupan masa kanak-kanaknya. Oh ternyata tidak! Gedung megah itu adalah kantor. Info ini saya dapatkan dari security yang sedang berjaga di pintu gerbang. Security yang baik ini memberitahu saya bahwa  Museum Rumah Bung Hatta berada di Pasar Bawah. Bukan di sini nona! Oh, gitu ya. Baiklah...
Kamar Bung Hatta, Tampak Meja Belajarnya

Saya mencari alamat yang dimaksud melalui aplikasi ojek online di gawai saya. Hmm... letaknya teryata cukup dekat dengan lokasi dimana saya berdiri sekarang. Cukup mengeluarkan ongkos Rp9.000,00 menggunakan ojek motor dan 15.000 ojek mobil. Oh baiklah, saya memutuskan pulang ke hotel terlebih dahulu.  Sebab, saya menjadi sedikit bimbang. Langit sudah agak gelap. Pertanda hujan akan segera datang. Pulang dulu lah, sembari menimbang pergi hari ini atau esok saja.
Lemari Tempat Koleksi Buku Bung Hatta

Ternyata, saya memutuskan untuk pergi hari itu juga. Saya memesan ojek motor. Tak lama menunggu, Kang Ojek datang dan langsung mengantar saya ke Rumah Bung Hatta.

Kang Ojek menurunkan saya di depan Rumah. Saya berjalan masuk ke halaman rumah. Di depan pintu masuk sudah ada penjaganya. Seorang pria paruh baya dengan dialek khas tanah Minang. Saya mengisi buku tamu seraya bertanya berapa harga tiket masuk. Ternyata tiket masuk ke sini sukarela alias se-ikhlas-nya saja. Bapak penjaga menanyai dari mana saya berasal, profesi saya apa, dimana saya menginap, de el el. Setelah berbincang sekitar 10 menit, saya memutuskan untuk mengakhiri obrolan dan minta izin untuk masuk ke dalam. Dan, sebelum masuk saya diberi buku saku yang berisi perjalanan hidup Bung Hatta.

Kamar Tidur  Utama
Bapak penjaga yang baik ini mengantar saya ke dalam rumah. Melihat-lihat setiap sudutnya seraya memberikan penjelasan. Baru berjalan berapa menit, saya merasa lebih nyaman jika membaca sendiri setiap informasi yang tertulis di sana. Maka sang bapak meninggalkan saya. Sebelum beliau undur diri tak lupa saya minta izin untuk mengambil gambar. Beliau sangat mempersilahkan.
Kamar Tidur Paman Bung Hatta
Sepeninggalan sang bapak, saya merasa lebih leluasa untuk meng-explore dan mengambil gambar di setiap sudut. Mungkin, sang penjaga yang baik hati tadi membuat saya grogi... Hehehe
Meja Makan
Siang itu, jumlah pengunjung sepi. Di dalam rumah hanya ada saya dan dua orang pelajar SMP yang masih berseragam sekolah. Mungkin karena hari itu weekdays, jadi jumlah pengunjung tak seramai saat weekend.
Tungku, Tempat Masak
Rumah masa kecil Bung Hatta ini terdiri dari dua lantai yang bergaya khas minangkabau tentunya. Semua pernak-pernik di dalam masih terawat dengan baik. Di dinding terdapat papan informasi beserta foto-foto Bung Hatta dan keluarganya. 
Sumur yang Tidak Difungsikan Lagi
Di dalam rumah terdapat beberapa kamar yang ditempat sang kakek, paman, dan anggota keluarga lainnya. Saya dapat melihat kamar dimana Bung Hatta dilahirkan. Sedangkan untuk kamar Bung Hatta terdapat di bagian paling depan. Di kamar itulah Bung Hatta menghabiskan waktunya untuk membaca dan belajar.
Bagian Teras Belakang
Di sini, saya membayangkan Bung Hatta kecil berlarian dari dalam rumah hingga ke pekarangan.
Bagian Belakang Rumah
Kelahiran Muhammad Hatta
Muhammad Hatta memiliki nama kecil Muhammad Atthar. Ia lahir di Bukittinggi pada tangal 12 Agustus 1902. Dan ia wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Jakarta pada usia 77 tahun. Ayahnya bernama Muhammad Djamil sedangkan ibunya bernama Saleha.
Tempat Meletakan Bendi
Muhammad Hatta dibesarkan di lingkungan keluaga ibunya. Ayahnya meninggal ketika ia berusia 8 bulan. Kemudian ibunya menikah lagi dengan Haji Ning. Dari pernikahan tersebut, Hatta memiliki enam saudara perempuan. Haji Ning snagat sayang padanya. Saat berusia 5 tahun, barulah Hatta tahu bahwa Haji Ning bukan ayah kandungnya. Muhammad Hatta merupakan anak laki-laki satu-satunya. 
Tangga untuk Ke Lantai Atas
Masa Kecil Bung Hatta
Sewaktu kecil ia mengaji dan memperdalam ilmu agama di surau Inyiak Syech Jamil Djambek di Kampung Tengah Sawah Bukittinggi. Mewarisi sifat orangtuanya, Muhammad Hatta taat beragama dan mencintai kebenaran. 
Kursi di Ruang Atas
Hatta kecil masuk sekolah dasar di Bukittinggi pada Europee lagere School. Sekolah ini merupakan tempat pendidikan bagi anak-anak Eropa dan Indo. Beliau diperbolehkan sekolah di sana karena kakeknya orang yang berpengaruh dan merupakan hartawan yang disegani. 

Masa Pendidikan Bung Hatta
Bung Hatta mulai mengenyam pendidikan formal di Sekolah Rakyat (SR). Namun ia berhenti dari sekolah tersebut dan pindah ke ELS (Europeesche Legere school) yang merupakan sekolah dasar pmasa kolonial Belanda di Indonesia. Ia sekolah di ELS sampai tahun 1913. Setelah lulus ia melanjutkan ke sekolah MULO (Meer Uitgebreid Larger Ondewijs) di Padang. MULO adalah sekolah tingkatan SMP pada masa kolonial Belanda. 
Halaman Belakang Tampak Dari Lantai Atas
Sejak bersekolah di MULO ia mulai tertarik pada pergerakan. Kemudian pada tahun 1916, muulah perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, dll. Bung Hatta masuk ke dalam perkumpulan Jong Sumateranen Bond dan menjadi Bendahara.  

Pada tahun 1921, Bung Hatta ke negeri Belanda untuk belajar pada Handels Hoge School di Rotterdam. 
Berfoto di Lantai Atas
Kehidupan Organisasi
Di Belanda Bung Hatta mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging. Suatu perkumpulan yang menolak kerjasama dengan Belanda ini kemudian berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). 

Bung Hatta memperpanjang rencana studinya sehingga ia terpilh menjadi ketua PI pada tahun 1926. Sejak tahun 1926 hingga tahun 1930 secara berturut-turut Bung Hatta menjadi ketua PI. Di bawah kepemimpinannya PI berubah dari organisasi biasa menjadi organisasi politik yang mempengaruhi jalannya politik Indonesia. 
Perhatikan Waktu Kunjungan Ya

Pada tahun 1926, dengan tujuan untuk memperkenalkan nama Indonesia, Bung Hatta memimpin delegasi ke kongres Demokrasi Perdamaian di Prancis. 

Kembali ke Indonesia
Pada tahun 1932, Bung Hatta berhasil menyelesaikan studinya di negeri Belanda. Sebulan kemudian ia tiba di Jakarta. Pada bulan Februari 1934, setelah Soekarno dibuang ke Ende, Pemerintahan Kolonial Belanda mengalihkan perhatiannya pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia yang diasuh oleh Bung Hatta.  

Pintu Ruangan 
Lumayan lama saya menghabiskan waktu di Museum Rumah Bung Hatta ini. Ya, hujan turun sangat deras sehingga saya belum bisa kembali ke hotel. Sebelum keluar dari Museum tak lupa saya meminta bapak penjaga yang baik tadi untuk memotret saya. Maklum, saya datang seorang diri. agak kesulitan mendapatkan gambar  dengan  latar rumah yang utuh melalui selfi. Setelah selesai difoto, saya menuju kedai bakso di sampingnya. Saya memesan semangkuk bakso hangat seraya menunggu hujan reda.

Nah, sekian dulu ya untuk bagian 1 ini. Nantikan perjalanan hidup Bung Hatta di bagian 2 dan 3. Sampai jumpa :)