Senin, 19 Februari 2018

Sudah cukup lama rasanya tidak mengikuti pengajian. Nah, kali ini mumpung ada kesempatan, saya pun ikut pengajian minggu ini. Menurut pengalaman saya, penting sekali menghadiri kajian, karena kajian itu sendiri dapat menguatkan (kembali) saat iman (kita) sedang berada dalam kondisi lemah. Ya, kalau kata teman saya, fungsi kajian itu untuk meng-change jiwa yang sedang low bat

Menghadiri kajian atau majelis ilmu sangat banyak manfaatnya. Di antaranya adalah mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT, Allah juga akan mengampuni dosa orang yang mendatangi majelis ilmu, Allah akan memudahkan jalannya menuju surga, selama dalam majelis ilmu ia akan dinaungi oleh para malaikat, dan masih banyak lagi manfaat mendatangi mejalis ilmu. Yang terpenting ilmunya sih... hehe

Oke kembali ke curhatan saya (hehehe). Pukul 08.00 pagi saya sudah berada di Hotel Samudra Dwinka yang berada di daerah Pintu Batu. Hanya butuh 10-15 menit dari rumah saya untuk tiba di hotel. Di sana sudah ramai sehingga saya kebagian duduk di belakang. 

Kajian kali ini diselenggarakan oleh teman-teman dari komunitas BMI (Back to Muslim Identity). Mereka mengahdirkan pembicara yang begitu kece. Ia adalah ustadzah Srie Dewi, S.E.I, M.E. Beliau berasal dari kota Palembang. Ustadzah Srie Dewi merupakan dosen di UIN Raden Patah Palembang. Beliau datang jauh-jauh demi berbagi ilmu kepada muslimah yang ada di Bengkulu. Wah.. asyik ya!

Ustadzah Srie Dewi adalah orang yang energik dan berjiwa muda (beliau emang masih muda sih, usianya hanya dua tahun di atas saya) sehingga memang beliau sangat cocok menyampaikan materi seputaran kehidupan di para remaja. Ya, seperti kita ketahui bahwa pergaulan para remaja akhir-akhir ini memang semakin mengkhawatirkan, sangat jauh dari muslim identity. 

Melihat fenomena yang ada itu, makan teman-teman BMI pada kajian kali mengangkat tema "TEENS JAMAN NOW BICARA CINTA". Wah... saya jadi malu. Saya kan gak teens lagi (haha). Ya, walaupun saya tidak (lagi) termasuk ke dalam golongan teens saya tetap semangat mengikuti kajian karena dalam keseharian saya sangat dekat dengan mereka masih tergolong teens dan kids. Sangat penting ilmu yang saya dapatkan untuk disampaikan kembali kepada mereka sebagaimana rumus PAS yang disampaikan Ustadzahh Srie Dewi, bahwa sejatinya sebuah ilmu yang kita dapatkan harus di-Pahami dengan baik, Amalkan dalam diri sendiri, lalu Sampaikan kepada orang lain.

Ya, jika bicara soal kehidupan remaja memang tidak ada habisnya, terutama perihal. Apalagi bicara soal cinta dikalangan remaja yang semakin mengkhawatirkan ini. Terlebih lagi akhir-akhir ini banyak sekali peristiwa-peristiwa mengerikan akibat cinta (katanya) di kalangan remaja. Bahkan di kota saya sendiri, ada peristiwa pelajar SMA membunuh mantan kekasihnya akibat ditolak CLBK alias balikan lagi. Waduh.. betul-betul zaman now yang mengerikan sekali!

Atas keperihatinan inilah, teman-teman dari komunitas BMI (berusaha) selalu memberikan kajian untuk menghindarkan para teens dari pemahaman cinta yang salah kaprah. Hadirnya perkembangan teknologi digital juga membuat para teens mudah digempur oleh budaya-budaya asing yang jelas-jelas tidak menunjukkan muslim identity

Kehidupan teens yang keren itu adalah teens yang sebanyak-banyaknya menuntut ilmu, sebanyak-banyaknya mengukir prestasi, dan sebanyak-banyaknya bermanfaat untuk masyarakat. Hal semacam inilah yang coba teman-teman BMI berikan (pengaruhnya) kepada teens zaman now agar kembali pada muslim identity. 

Nah, itulah kira-kira yang dapat saya simpulkan dari tujuan kajian yang diadakan teman-teman dari BMI. Sebelum pulang, saya membaca bahwa akan ada tujuh golongan manusia yang akan Allah lindungi dalam perlindungan-Nya pada saat tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya, yaitu:
  • Penguasa yang adil
  • Pemuda yang tumbuh dalam suasana beribadah kepada Tuhan-Nya
  • Seseorang yang hatinya selalu terpaut ke masjid
  • Dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berjuang dan berpisah karena Allah
  • Seseorang yang digoda oleh wanita cantik dan rupawan, lalu ia berkata, "Aku takut kepada Allah".
  • Seseorang yang biasa bersedekah secara rahasia sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya
  • Seseorang yang biasa mengingat Allah secara menyendiri, lalu air matanya menetes
(HR Al-Bukhari)

Semoga kita termasuk ke dalam tujuh golongan di atas ya.... amiin

Kamis, 15 Februari 2018

Whoa... sulit move on rasanya dari liburan ke Pulau Tikus. Yup, sekali ke sana pingin balik lagi dan balik lagi. Kalau perlu tinggal di sana deh.. hehe

Jangan lewatkan: http://www.sajaksajakgagal.com/2018/02/yuk-finding-nemo-di-pulau-tikus.html

Iya dong, banyak hal yang dapat kita dilakukan di pulau Tikus. Apa saja itu? Yuk simak di bawah ini!


1. Snorkeling
asyiknya snorkeling di pulau Tikus
sumber foto: sobat BOBE
Ya, pulau Tikus adalah tempat snorkeling favorit. Kamu tahu snorkeling kan? Itu lho.. aktivitas menyelam di perairan yang dangkal. Snorkeling juga dikenal dengan istilah skin diving. Peralatan yang digunakan saat snorkeling tergolong  masih sederhana, yaitu masker selam, snorkel, dan fin (kaki bebek). Saat snorkeling kita juga bisa menggunakan pakaian biasa. Tapi, jangan lupa menggunakan baju yang nyaman dan memudahkan bergerak di dalam air ya.

Oh iya, saat snorkeling di pulau Tikus kamu akan berjumpa dengan ikan Nemo. Ikan Nemo adalah ikan badut yang menjadi incaran wisatawan untuk diajak foto-foto. Tidak hanya ikan Nemo, di pulau cantik ini juga banyak ikan lain yang dapat diajak berswafoto. 


2. Diving
sumber foto: facebook Ekspayer Edy
Ya, selain snorkeling, di pulau Tikus kamu juga bisa diving. Nah, untuk yang satu ini sepertinya kurang populer ya di pulau Tikus karena untuk di provinsi Bengkulu spot diving favorit adalah di pulau Enggano dan sepanjang laut di  daerah Kaur, kabupaten Bengkulu Selatan. Kata abang saya, pulau Tikus kurang mendukung untuk kegiatan diving. Tapi, saat saya berwisata ke pulau Tikus saya melihat dua orang wistawan asing membawa alat SCUBA. Nah, dari pemandangan tersebut, saya menyimpulkan bahwa ternyata kita juga bisa kok diving di sini. Biar gak penasaran dicoba aja ya...

Diving berbeda dengan snorkeling. Snorkeling dapat dilakukan di perairan dangkal (di tepi pulau), sedangkan diving harus dilakukan di perairan yang dalam. Diving menggunakan alat-alat yang lebih kompleks, seperti tangki oksigen, masker selam, wetsuit (baju sejenis jumpsuit, khusus untuk diving), pemberat, fin (kaki bebek). Selain itu, untuk bisa diving di laut kita memiliki beberapa pengetahuan. Pertama, kita harus paham bagaimana cara menggunakan alat-alat di dalam air. Kedua, kita harus paham kode-kode  saat berkomunikasi dalam air. Ketiga, kita butuh latihan. Nah, jika ada yang kurang boleh ditambahkan sendiri ya. Yang jelas untuk bisa diving kita harus mempunyai SIM (Surat Izin Menyelam) atau dikenal dengan nama diving licence. 

3. Floating
saya gak lagi floating sih, lagi terdampar aja.. hehe
sumber foto: sobat BOBE
Nah, kalau yang ini, aktivitas pembuka yang wajib banget dilakukan di pulau Tikus. Untuk bisa floating atau mengapung di atas air ada tekniknya sendiri. Jika belum bisa, sebaiknya latihan dulu di kolam renang ya. Sebelum melakukan kegiatan ini, pastikan kamu bisa berenang ya. Takutnya kamu keasyikan tiduran di air dan gak sadar tiba-tiba udah di tengah laut aja.. hehe 

Air laut yang begitu biru dan bersih membuat kita nyaman untuk ber-floating ria. Asyik banget deh floating di sini. Seger rasanya!! Walaupun pas pulang kulit jadi gosong... hehe

4. Camping
sumber foto: kemanaajaboleh.com
Nah untuk point nomor 4 ini, jujur saya sendiri belum pernah mencoba. Tetapi abang saya sering camping di sini. Cukup bawa tenda, logistik, dan peralatan memasak. Yang terpenting, sebelum camping jangan lupa izin terlebih dahulu dengan penjaga pulau demi keamanan dan kenyaman.

Konon katanya camping di pulau tikus sangatlah romantis. Betapa tidak, kita tidur di bawah langit dengan taburan ribuan bintang (kalau gak hujan yes). Istilah anak-anak IG sih, five billion star hotel, alias lebih mewah dari hotel bintang lima. Meletakkan punggung di atas pasir yang begitu bersih sembari menikmati gemericik air laut adalah momen yang sulit dilupakan. Dan, tak lupa api unggun sebagai pelengkap. 

Wah.. saya sungguh ingin merasakan camping di pinggir laut. Kalau camping di hutan sudah mainstream... hehe


5. Selfi (ng)
selfi (ng) di pulau Tikus
sumber foto: facebook Ekspayer Edy
Maksa banget ya nulis selfi (ng) biar bunyinya ada 'ing'-nya kayak yang lain... hehe

Selfi atau swafoto adalah hal yang wajib saat pergi ke suatu tempat. Ya, kalau gak foto-foto gak afdol rasanya. Terlebih lagi zaman now, dunia sosial media berperan penting dalam mempromosikan tempat-tempat wisata suatu daerah. Jadi, saat datang ke pulau Tikus wajib foto-foto ya, abis itu diunggah ke media sosial yang kamu punya untuk mempromosikan keindahan pulau Tikus. 


Sekian dulu tulisan ini. Insya Allah jumpa lagi di tulisan saya yang lain ya...

Catatan: foto-foto yang saya gunakan dalam artikel ini disadur dari facebook Ekspayer Edy, sobat BOBE, dan kemanaajabolehdotcom BUKAN dokumen pribadi ya

Kamis, 08 Februari 2018

Film Finding Nemo

Siapa yang tidak tahu film Finding Nemo? Ya, rata-rata semua orang tahu film keren ini. Finding Nemo adalah film yang diproduksi oleh Pixar dan dirilis pada tahun 2003. Film ini sukses meraih penghargaan Oscar sebagai film animasi terbaik. 

Nemo adalah ikan badut yang berwarna oranye, putih, dan hitam belang-belang. Nemo memiliki ayah yang bernama Marlin. Marlin dan Nemo hidup tenang di laut bersama biota laut lainnya.

Suatu hari Nemo tertangkap oleh manusia. Kemudian ia dibawa ke Australia dan dimasukan ke dalam akuarium. Menyadari anaknya telah hilang, Marlin lalu berupaya mencari dan menyelamat Nemo. Dalam perjalanan itu, ia bertemu dengan seekor ikan pelupa bernama Dory. Dibantu oleh Dory, akhirnya Nemo berhasil ditemukan. Finally, they are live happily ever after. Oh, so sweet!
persiapan dulu ya sebelum menyelam
Pulau Tikus

Oke ya. Kali ini saya tidak akan membahas tentang film Finding Nemo. Tetapi saya akan sharing tentang pengalaman saya berjumpa si Nemo di pulau Tikus. Wah, ternyata di pulau Tikus ada Nemo juga ya. 

Pulau tikus adalah salah satu pulau yang terletak di provinsi Bengkulu. Pulau ini hanya berjarak sekitar 10 KM dari pusat kota. Jarak tempuh ke pulau ini kurang lebih selama 60 menit menggunakan perahu milik nelayan. Jika ingin berwisata ke pulau cantik ini kita dapat menggunakan agensi wisata yang ada di sekitar pantai Tapak Paderi. Cukup merogoh kocek sekitar 150-200 ribu rupiah saja per orang. Itu sudah termasuk paket snorkeling, foto under water, makan siang, serta ditemani instruktur yang siap menemani kita beraktivitas di pulau. Wah... cukup murah ya... 
Nemo dan teman-teman sudah nampak nih
Perjalanan Menuju Pulau Tikus

Saya ingat betul, hari itu hari Kamis. Saya bangun pagi-pagi sekali. Packing menyiapkan segala keperluan untuk di pulau nantinya. Pukul 7 pagi saya diantar ke pantai Tapak Paderi dan berkumpul bersama teman-teman. Sekitar pukul 9 pagi kami mulai melakukan perjalanan menuju pulau Tikus.

Setelah berada di perahu selama kurang lebih satu jam akhirnya rombongan kami tiba juga di pulau yang cantik ini. Saat di perahu, saya sempat didera mabuk laut. Wah, rasanya sangat tidak nyaman. Saya berusaha enjoy dan menikmati pemandangan untuk melupakan rasa mual. Tetapi sia-sia saja. Pada akhirnya, Saya harus ikhlas memberikan  sarapan saya kepada ikan-ikan di laut. Uwakkk.. uwakkk... 
Hello Nemo, I will catch you.. hehe
Setelah semua isi perut keluar, barulah saya merasa sedikit lega. Terlebih lagi setelah tiba di pulau. Angin pulau yang sepo-sepoi membuat keadaan saya semakin membaik. Segar.. segar!!! Birunya laut membuat saya tak sabar ingin segera floating-floating cantik. Pasir pulau yang sangat bersih semakin menggelitik hati saya untuk segera ber-duyung ria di atasnya. 

Kebetulan saat itu kami tiba sudah agak siang sehingga kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum melakukan serangkaian kegiatan penting. Setelah makan, barulah kami melakukan  kegiatan bersama. Setelah kegiatan bersama usai hal yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. This is it! Finding Nemo! Yeay... Snorkeling menjumpai Nemo. Asyiknya....
Hello Nemo
Finding Nemo!

Karena keterbatasan alat dan pendamping akhirnya kami dibagi menjadi dua tim. Tim pertama akan snorkeling terlebih dahulu. Sedangkan tim kedua menyusul setelah tim pertama usai. Kebetulan saat itu saya kebagian menjadi tim kedua. Saya menunggu dengan sabar. Di sela-sela menunggu, saya mewujudkan keinginan untuk floating dan bobo cantik di atas air laut. Kebetulan bouyancy atau gaya apung tubuh saya tehadap air memang tinggi. Jadi, untuk urusan floating insya Allah mudah saja. 
Ini Nemo
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya tim kedua dipanggil untuk snorkeling. Yeay!! Kami langsung menggunakan sepatu karet, snorkel, dan masker. Di laut pendamping dan fotografer sudah menunggu dan siap membantu kami untuk berjumpa dengan Nemo. 

Kami menyelam secara bergantian untuk menjaga kenyaman si Nemo. Nah, tibalah giliran saya. Karena bouyancy saya tinggi makan tubuh saya harus ditekan agar bisa menyelam. Ya, dengan bantuan teman-teman, saya pun berhasil melihat Nemo. 
hayoo.. mau kemana
Setelah puas melihat Nemo. Pendamping mengajak kami untuk melihat ikan lainnya. Karena baru saja kami melihat ikan Nemo, maka ikan yang akan kami lihat ini kami beri nama ikan Dory. Ya, walaupun bukan ikan Dory sungguhan, ikan ini memiliki warna sedikit biru. Sedikit mirip lah dengan Dory. Ya, anggap saja Dory si ikan pelupa.. hehe

Finding Dory KW

Habitat Dory KW cukup jauh dari daratan. Letaknya di tengah laut. Tempat itu sedikit dalam. Tetapi hal itu tidak melunturkan semangat kami untuk bertemu Dory. Ya, walaupun pada akhirnya beberapa teman memutuskan untuk berhenti berjuang dan putar arah karena arus yang begitu deras. Ya, arus membuat kami sedikit kesulitan untuk tiba di kediaman ikan Dory. 
Ikan Dory KW.. wkwk
Saya, Nani, Trie, Dani, dan Rio tak patah arang. Kami berlima melanjutkan perjuangan. Setelah bahu membahu cukup lama akhirnya kami tiba juga di kediaman ikan Dory. Kami  langsung berfoto-foto cantik/ganteng di tengah-tengah ikan Dory yang sedang asyik menyantap remahan roti yang sengaja kami tabur agar mereka mendekat. 

Ya, (lagi-lagi) karena bouyancy saya tinggi, rekan-rekan (kembali) harus menahan tubuh saya di dalam air. 

Puas rasanya menjumpai ikan-ikan cantik/ganteng di pulau Tikus. Kalau kamu mau jumpa Nemo dan kawan-kawanya, kamu boleh ya snorkeling di pulau Tikus Bengkulu. Dijamin menyenangkan...


Dory everywhere
Tips Nyaman Saat Snorkeling:
  • Gunaka Masker selam agar dapat melihat keindahan alam bawah laut dengan maksimal
  • Gunakan sepatu karet khusus menyelam agar kaki terhindar dari luka akibat gesekan dengan karang-karang laut yang tajam
  • Gunakan snorkel untuk memudahkan bernafas 
  • Gunakan pakaian yang mudah kering dan tidak menyerap air
  • Gunakan pakaian yang memudahkan kita untuk bergerak di dalam air

Sekian dulu tulisan ini. Insya Allah berjumpa lagi di tulisan saya yang lain ya. Terima kasih. 

Catatan: Semua foto/gambar yang saya gunakan dalam artikel ini adalah milik sobat bobe, BUKAN dokumen saya pribadi ya...

Senin, 05 Februari 2018

Tak bosan rasanya menyusuri Jalan Braga. Ya, sebuah jalan yang terletak di jantung kota Bandung. Begitu menginjakkan kaki di sini, Bandung tempo dulu langsung terasa. Hal ini didukung juga oleh bangunan-bangunan tua yang ada di sepanjang Jalan Braga. Ya, saya memang menyenangi wisata kota tua. Saya begitu antusias.

Jalan Braga terletak di posisi yang strategis. Namun, yang paling ingin saya kunjungi  saat ke sini adalah Museum Asia Afrika. Sebetulnya saya sangat ingin masuk ke museum ini, tetapi saat saya lewat sedang tutup. Ya, karena saya datang Minggu pagi. Tahun 2016 saya juga gagal mengunjungi tempat ini. Ternyata di tahun 2017 saya gagal lagi. Mungkin saya harus mengunjungi Bandung untuk ketiga kalinya.. hehe

Rencananya  hari itu kami akan membuat tulisan FLP di masjid Raya Bandung. Untuk menuju ke sana kami diharuskan berjalan kaki. Wah.. favourite saya nih. Senang rasanya menyusuri kota Bandung dengan kaki. Dengan begitusaya lebih puas menikmati pemndangan kota Bandung yang asri. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya kami tiba alun-alun kota, berfoto-foto, lalu melanjutkan kembali melanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Braga sebelum akhirnya kami berhenti di masjid Raya Bandung untuk pengambilan foto yang ketjeh. 

Saya flashback ke tahun 2016. Saat itu saya menyempatkan diri sholat di masjid Raya. Ternyata Masjid ini sangat luas ya. Saya terkagum-kagum. 
Jalan Braga Spot Foto Yang Asyik
Ini adalah kedatangan saya untuk kedua kalinya di Bandung. Kali ini, saya datang sebagai delegasi FLP Wilayah Bengkulu dalam rangkaian kegiatan Munas 4. Kamis sore saya sudah menginjakan kaki (kembali) di kota yang terkenal akan neng geulis-nya ini. 

Tahun 2016 adalah kedatangan saya di bandung untuk pertama kalinya. Saat itu saya begitu kagok. Agak cemas. Bagaimana tidak, saya tiba pukul 20.00 WIB, di kota asing, seorang diri. Perasaan saya sedikit tenang saat sudah bertemu teman di daerah Cicendo. Teman yang baik ini bersedia menampung saya selama seminggu di Bumi Pasundan. 
Lukisan-Lukisan Cantik Terdapat Di Beberapa Titik

Area di sekitar pusat kota Bandung memang asyik. Tahun 2016, saya bahkan hampir setiap hari menyusuri Jalan Braga. Entah untuk membeli beberapa keperluan atau sekedar  mengencang otot kaki saja. Jika lelah, saya duduk sambil menikmati air mineral yang selalu saya bawa. 

Kota Bandung yang sejuk dan tertata membuat saya betah berjalan kaki. Berbeda sekali dengan kota saya yang begitu panas. Jangankan berjalan kaki, keluar rumah saja rasanya enggan jika cuaca sedang terik. 

Bahagia rasanya dapat kembali menyusuri Jalan Braga. Ya, terlebih lagi kedatangan saya kali ini. Saya lebih rileks dan enjoy. Sangat berbeda dengan kedatangan saya pada tahun 2016. Kala itu saya datang ke Bandung dengan sejuta kilogram beban di pundak. Waduh! Tapi sekarang saya sudah move on lho ya!
Foto-Foto Cantik
Oke kembali ke topik. Ini tentang Jalan Braga. Pertama kali saya mengenal/mendengar/mengetahui Jalan Braga adalah pada saat kuliah. Jalan Braga merupakan salah satu bait dari puisi Wajah Kita karya Hamid Jabbar.

Berikut ini cuplikan puisinya:


.....Bila kita selalu berkaca setiap saat
dan di setiap tempat
Maka tergambarlah:
Alangkah bermacamnya 
Wajah kita
Yang berderet bagai patung
Di toko mainan di Jalan Braga....

Sejak saat itu saya begitu penasaran bagaiman sih sebenarnya Jalan Braga itu. Kok banyak patung? Banyak Mainan? Beberapa pertanyaan terlintas di benak saya. Dan, alhamdulilah, sejak lulus kuliah sudah dua kali saya menginjakkan kaki di Jalan Braga. Saya baru tahu ternyata Jalan Braga adalah pusat perbelanjaan dan kuliner juga. Jadi wajar saja jika dikatakan dalam puisi tersebut bahwa "wajah kita" bagai patung yang berderet di Jalan Braga. Ya, patung-patung yang dijual di sana. Berbeda-beda bentuknya. 

Ya, tidak  dapat saya pungkiri bahwa latar atau setting sebuah karya sastra mampu membuat saya penasaran dengan tempat tersebut. Tentunya saya penasaran apa yang menarik dari tempat tersebut sehingga dijadikan latar dalam sebuah tulisan.

Tidak puas rasanya melihat pemandangan Jalan Braga di televisi atau internet. Lebih senang rasanya jika menginjakan kaki langsung dan menikmati suasananya.
Tahun Depan Semoga Bisa Ke Sini Lagi Ya
Jalan Braga ini sebetulnya pusat kegiatan masyarakat. Aneka dagangan ada di sana. Namun  yang paling menarik hati saya adalah bangunan-bangunan tua yang masih terawat bederet di sana.

Jika dilihat dari sajak Hamid Jabbar tersebut seperti Jalan Braga merupakan tempat berkesenian. Hal ini terlihat dari beberapa titik terdapat lukisan. Entah siapa yang melukisnya. Tampaknya tidak dijual dan sengaja dipajang di sepanjang Jalan Braga untuk mempercantik kawasan tersebut. 




Kamis, 01 Februari 2018

Gak terasa udah Februari aja ya, Januari kemarin kok rasanya saya kurang produktif ya. Terbukti, saya hanya mampu menulis enam artikel saja. Waduhh... semoga bulan ini semakin produktif ya... amiin!!

Oke. Pada kesempatan kali ini mau berbagi pengalaman saat mengikuti Pelatihan Desain Dasar Photoshop yang dilaksanakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Bengkulu.
Penulis zaman now, dituntut untuk multi talen. Selain pandai merangkai uruf A sampai Z menjadi kata-kata yang indah, penulis zaman now juga harus bisa membuat desain brosur, spanduk, pamplet, de el el. Karena hal ini akan saling berkaitan. 

Nah, untuk mewujudkan plus menciptakan penulis yang serba bisa itu, FLP Bengkulu, mengadakan pelatihan Desain Dasar Photoshop. Sebetulnya, pelatihan ini berkaitan erat dengan kegiatan Pangkalan Sastrawan FLP Bengkulu. Ya, diharapkan smeua pengurus FLP Bengkulu mampu membuat brosur untuk promosi kegiatan Pangkalan Sastrawan. Karena, selama ini tugas membuat brosur hanya dibebankan kepada ketua FLP Bengkulu, Mbak Mira. Ya, karena pengurus yang lain belum pandai mengutak-atik photoshop... hehehe

Pangkalan Sastarawan adalah agenda rutin FLP Bengkulu yang dilaksanakan satu kali dalam sebulan. Biasanya kegiatan ini dilaksanakan di minggu kedua setiap bulannya, dan bertempat di Sekolah Alam Indonesia (SAI), Lempuing. 
Ini dia, Kak Nova Hardianto
Oke kita kembali ke topik. Pelatihan Desain Dasar Photoshop ini dibimbing oleh Kak Nova Hardianto, nama penanya adalah Ompa. Nah, kak Nova ini masih mahasiswa lho. Dia salah satu pengurus FLP yang keren. Kak  Nova ini memang sudah mahir dalam desain-mendesain. Jadilah, kami semua berguru pada beliau. 

Pelatihan ini bersifat private, ya khusus untuk anggota FLP saja. Minggu siang, hampir semua pengurus FLP Bengkulu berduyun-duyun datang ke Universitas Dehasen, Sawah Lebar, kota Bengkulu. Tetapi, ada juga lho peserta pelatihan yang nyasar ke Universitas Dehasen yang terletak di Kebun Tebeng. Mungkin karena kalimat di brosur kurang jelas atau pesertanya kurang menyimak nyasar deh jadinya... hehe. Ya, maklum saja kampus Dehasen kan ada dua. 

Pelatihan yang rencananya akan berlangsung selama dua jam saja itu akhirnya molor sampai tiga jam lebih. Saya pun sampai di rumah pukul 5 sore. Ya, maklum saja karena ini pelithan desain dasar dan rata-rata peserta memang masih pemula, terutama saya newbie, true newbie jadinya agak lambat plus ngerepotin Kak Nova banget. 

Awalnya, kami berencana akan membuat tiga desain sekaligus, tetapi karena waktu tidak memungkinkan akhirnya kami hanya berhasil membuat satu desain saja. Itu pun saya sudah ngo-ngosan. 

semangat ya!!!
Beruntungnya Kak Nova ini penyabar dan rajin menabung. Jadi, kami benar-benar di bimbing menuju jalan kebenaran satu per satu.

Singkat cerita, akhirnya kami berhasil membuat desain sederhana. Desain milik saya masih terlihat kasar sekali.. hihihi. Ya, maklum beginer true beginer. 

Menurut Kak Nova, sebetulnya untuk mahir membuat desain photoshop memang harus banyak latihan dan mencoa-coba saja. Iya dong, ingat pepatah dari tanah Minang alah biso kareno biaso. Bisa karena terbiasa. Kak Nova pun belajar mendesain secara ototidak. Yang paling penting ada kemauan, ulet, dan tidak mudah putus asa. Karena sejatinya generasi zaman now banyak kemudahan. Tutorial di internet sangat banyak, tinggal ikuti saja. Asalkan kita mau meluangkan waktu lebih untuk mencoba-coba maka tak butuh waktu lama kita akan mahir. Oke kak... siappp!!
Kak Nova sabar banget nih
Setelah pelatihan berakhir dan tentunya kami sudah mempunyai karya. Pelatihan pun resmi ditutup. Tak lupa, Kak Nova memberi kami pekerjaan rumah alias PR. Nah, lho!. Sebetulnya, kami senang diberi PR. Ya, dengan begitu kami terpaksa belajar di rumah. Ya untuk menerapkan ilmu yang sudah didapat. Kalau tidak langsung dipraktekan pasti langsung lupa.. hehe
ayo kak, yang ini juga butuh bantuan
Setelah pelatihan selesai giliran Mak Milda nih yang cuap-cuap. Seperti biasa Mak Milda memberi info kegiatan-kegiatan FLP kedepannya. Tak lupa juga ia memberi motivasi untuk anggota FLP supaya menjadi lebih produktif ke depannya.. prok prok.. siap Mak!!

Sebelum pulang tak lupa kami foto-foto. Namanya juga people zaman now ya, foto-foto adalah agenda yang wajib pake banget. Kalo gak foto-foto, ibaratnya seperti aku tanpa kamu gula tanpa semut. Gak lengkap, gak matching lah pokoknya. Sebetulnya, foto-foto penting juga sih untuk dokumentasi kegiatan... hehe

Oke sampai di sini dulu ya sharing-nya. Salam semagat untuk FLP. Salam literasi. Semoga terus mencerahkan dalam dunia literasi. 


Kamis, 25 Januari 2018


Berbicara soal wisata alam, Bengkulu memang sudah tidak diragukan lagi keindahannya. Jika kita mau meluangkan waktu dan sedikit mengencangkan otot kaki, maka kita dapat menemukan  keindahan-keindahan alam yang ada di provinsi kecil yang terletak di pulau Sumatra ini. 

Provinsi Bengkulu secara administratif terdiri dari 9 kabupaten dan 1 kota. Sembilan kabupaten dan satu kota tersebut yaitu kabupaten Bengkulu Selatan, kabupaten Bengkulu Tengah, kabupaten Bengkulu Utara, kabupaten Kaur, kabupaten Kepahiang, kabupaten Rejang Lebong, kabaten Lebong, kabupaten Seluma, dan kota Bengkulu sendiri. 

Baiklah, dalam kesempatan kali ini saya tidak akan membahas kesembian kabuten tersebut. Saya akan membahas salah satu destinasi wisata yang terdapat di salah satu kabupatennya, yaitu kabupaten Bengkulu Tengah. Ya, saat berkunjung ke kabupaten ini saya menyempatkan diri berwisata ke danau Susup. 
danau Susup yang begitu hijau
Sesuai dengan namanya, danau Susup memang terletak di desa Susup, kecamatan Merigi Kelindang, kabupaten Bengkulu Tengah. Mayoritas penduduk di desa ini berasal dari suku Rejang. Ya, selama dua hari satu malam saya menginap di sini, saya lebih banyak diam saat bergabung dengan warga. Soalnya coa ku teu, saya tidak pandai berbahasa Rejang... hehehe

Danau Susup terletak cukup jauh dari perkampungan. Mengajak orang yang memahami daerah ini adalah pilihan terbaik saat berkunjung ke danau Susup. Kebetulan,  saat saya datang ke sini, saya memang memiliki rencana untuk menginap di rumah teman yang memang merupakan warga asli desa Jambu. Desa Jambu dan desa Susup letaknya tak berjauhan. Jadi, kemana pun pergi saya selalu bersama warga lokal. 

Pagi itu, sekitar pukul 10.00 kami memacu motor menuju danau Susup. Letak danau Susup ini cukup jauh dari pedesaan. Di sepanjang jalan kami menikmati pemandangan perkebunan sawit dan kopi. Jalan yang kami lewati pun sebagian sudah rusak. Beruntungnya, kedua teman saya memang ahli off-road. Ya, saya duduk tenang di belakang sambil terus berdoa. 

Setelah menempuh perjalanan hampir sekitar 30 menit (dari desa ke danau), akhirnya kami tiba juga di tempat yang dituju, danau  Susup. Kami memarkirkan kendaraan di bawah pohon yang agak tersembunyi. Tiba-tiba terdengar suara teriakan laki-laki (tampaknya suara seorang bapak) yang mengingatkan kami agar tidak mandi di danau. Konon katanya, danau Susup ini angker. Teman saya dan bapak tersebut bercakap-cakap dalam bahasa suku Rejang. Saya sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Satu-satunya yang dapat saya tangkap dari pembicaraan tersebut adalah bahwa bapak tersebut menanyakan dari mana kami berasal. Teman saya pun menjelaskan bahwa kami berasal dari desa Jambu dan hanya ingin foto-foto saja di danau. Kami memang tidak berencana untuk mandi. Akhirnya, bapak yang baik hati itu melanjutkan pekerjaanya. 
danau Susup memang cantik
Setelah bercakap-cakap dengan bapak tersebut, kami pun mulai menururin tebing untuk mendekati danau. Dari kejauhan, kami sudah melihat lukisan alam yang begitu indah. Danau yang begitu hijau. Sayangnya,  kami hanya menikmati keindahan danau Susup dari atas saja mengikuti saran bapak yang kami jumpai di atas. Padahal sepertinya pemandangan danau dari bawah jauh lebih bagus. Tetapi demi keamanan kami berfoto-foto dari atas saja. 

Menurut cerita teman saya, danau Susup ini terbentuk karena adanya penggalian batu bara yang dilakukan sebuah PT swasta. Setelah kandungan batu bara habis, PT tersebut meninggalkan tempat ini sehingga terbentuklah genangan air yang sangat cantik ini. Karena genangan cantik ini terletak di desa Susup makan dinamailah danau Susup. Menurut KBBI, danau adalah genangan air yang sangat luas dan dikelilingi oleh daratan. Ya, cocok penamaannya dengan danau ini. Kalo genangannya gak luas berarti bukan danau, bisa jadi cuma genangan air hujan di jalan berlubang #eh. 

Mungkin hanya sekitar 20 menit kami berada di danau. Setelah itu, kami pulang. Di sini memang sangat sepi, sunyi, dan agak horor menurut saya. Jika diingat sekarang, alangkah beraninya kami waktu itu. Hanya bertiga dan perempuan semua. 

Tips aman dan nyaman berwisata ke danau Susup:
  • Pastikan kamu dalam keadaan yang fit. Jika kamu sedang sakit tidak perlu memaksakan diri berkunjung ke sini ya.
  • Pastikan kendaraan yang dipakai dalam kondisi baik mengingat jalan yang dilalui tidak terlalu bagus. Jangan sampai kendaraan kamu macet di perjalanan karena gak ada bengkel di sepanjang perjalanan. 
  • Pergilah beramai-ramai dengan teman-teman kamu. Danau ini berlokasi di tempat yang sangat sepi. Tidak ada rumah penduduk di dekat sana. Wajib mengajak teman yang notabene-nya warga lokal agar bisa menjadi guide kalian.
  • Bawalah bekal makanan dan minuman yang cukup sebelum berangkat. Ya, mengingat letak danau ini cukup jauh dari keramaian sehingga sulit untuk mencari makanan di dekat danau. 
  • Bawalah lotion anti nyamuk atau tembakau agar tidak digigit pacat. 
  • Pake kaos kaki wajib banget ya supaya kaki terlindungi dari hewan pacat. 
  • Gunakanlah pakaian yang nyaman dan bisa membuat kamu bebas bergerak. 

Itulah sedikit cerita tentang danau Susup. Sampai jumpa lagi di cerita yang lain ya! Kapan-kapan kamu datang ke sini ya....




Sabtu, 20 Januari 2018




Sebetulnya saya datang ke sini tahun lalu, tetapi memang saya belum pernah menuliskan pengalaman saat berwisata di sini. Ya, pada prinsipnya saya percaya bahwa “yang terucap akan mati, yang tertulis akan abadi”. Oleh karena itu, saya hobi menuliskan pengalaman saat berpergian atau mendatangi suatu tempat. Ya, walaupun sudah “dingin", saya tetap menulisnya agar suatu hari saya dapat bernostalgia dengan tempat ini melalui tulisan.


Jujur saja, saat ini, saya masih memiliki beberapa PR tulisan tentang traveling. Kenapa belum saya tulis ya. Apa alasannya ya. Saya juga bingung menjawabnya. Yang jelas kalau kata orang Bengkulu beguyur alias dicicil alias alon-alon sing penting kelakon. Ya, santai saja yang penting dikerjakan. Oke deh... semangat ya!!

Kangen Juga Ya Sama Mereka
Kebetulan saya memang suka melalar. Biasanya, saya juga dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki hobi sama. Oh iya, dalam bahasa Bengkulu melalar artinya adalah jalan-jalan atau bahasa kerennya traveling.

Kegiatan traveling atau melalar atau jalan-jalan memang sudah menjadi gaya hidup untuk sebagian orang. Ditambah lagi, perkembangan dunia digital yang semakin pesat maka semakin banyak pulalah tempat-tempat wisata yang terekpos dengan baik sehingga people zaman now berama-ramai untuk mengunjungi suau tempat, terutama tempat yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Kalau belum ke sana belum hits dong!


Sebetulnya Tulisannya I LOVE YOU
Apa pun itu, untuk saya pribadi jalan-jalan adalah alat untuk menikmati kebersamaan dengan orang-orang terdekat. Ya, jika budget-nya lagi low, maka saya pun terkadang memutuskan #solotrip. #solotrip biasanya saya lakukan di tempat-tempat yang aman. Saya tidak pernah terpikir untuk melakukan #solotrip ke hutan atau ke gunung.  Memang sebaiknya hal itu tidak dilakukan. Resikonya terlalu besar menurut saya pribadi.


Oke kembali ke laptop. Kali ini saya dan teman-teman mengunjungi salah satu taman yang ada di kota Bengkulu. Sebetulnya letak taman ini sudah agak di pinggiran kota, tepatnya di Jalan raya Sungai Hitam, perbatasan antara kota Bengkulu dan kabupaten Bengkulu Utara. Taman Wisata family letaknya tidak terlalu jauh dari Universitas Bengkulu. Maka, tidak heran jika siang hari banyak juga mahasiswa yang beristirahat di sini sambil menikmati keindahan hutan bakau. Duh... kok jadi kangen kampus ya T_T

Tiket masuk ke area taman adalah Rp15.000,00. Pengunjung juga diberikan 1 botol teh kemasan secara gratis. Nah, untuk masuk ke area hutan bakau pengunjung dikenakan lagi tarif Rp5.000,00. Di pintu masuk ini bakau ini ada ayuk-ayuk (mbak-mbak) cantik yang menjual sekaligus menyewakan topi untuk sekedar gaya-gayaan... hehehe. Ayuk-ayuk ini juga merangkap sebagai fotografer jika ada pengunjung yang minta tolong difotokan. Termasuk  rombongan kami. 

Sesuai dengan namanya, yaitu Taman Wisata Family, maka tempat ini memang cocok untuk dikunjungi bersama keluarga. Terdapat arena bermain anak dan penyewaan permainan anak. Tetapi untuk yang masih single, jomblo, munfarid, independent, atau apalah ya istilahnya gak ada salah juga berwisata di sini. Ada juga kok kursi yang didesain satu-satu. Cocok banget untuk menikmati kesendirian. Tapi kok jadi sedih ya T_T
Berbeda dengan kebanyakan tempat wisata, di Taman Wisata Family ini pengunjung diperbolehkan membawa makanan atau minuman dari luar. Karena memang di dalam tidak terlalu banyak penjual makanan. Sepertinya tempat ini memang didesain untuk berwisata alam bukan wisata kuliner. Bahkan, banyak juga orangtua mengajak anak mereka ala-ala piknik di sini. Mereka membawa tikar dan makanan dari rumah.


Seperti biasa jika tiba di tempat wisata tujuan utamanya adalah foto-foto. Tujuan kedua mengunduh foto di media sosial. Tujuan terakhir barulah menikmati wisatanya. Ya, namanya juga people zaman now

Oh iya, beberapa waktu yang lalu saya melewati tempat wisata ini. Di sana terlihat sepi. Mungkin sedang libur, mungkin memang sedang sepi, atau mungkin juga sudah ditutup. Saya juga tidak dapat memastikan. Mengingat letaknya sudah agak pinggiran kota, ya mungkin saja orang-orang mulai enggan ke sana. Apa lagi tempat-tempat wisata baru bermunculan di tengah kota. Bisa jadi jarak juga menjadi pertimbangan masyarakat saat berwisata. Lagi pula biasanya tempat-tempat wisata yang baru dibuka akan ramai di awal saja, lama-kelamaan akan sepi. Ya memang tempat wisata adalah bisnis yang mengharuskan owner-nya kreatif dan inovatif menghadirkan hal-hal baru yang disukai pengunjung. Jika tidak, maka lama kelamaan tempat wisata yang dikelola akan tutup karena masyarakat cenderung cepat merasa bosan.



Oke, saya menulis ini bukan untuk meng-update tempat wisata ini. Jujur saja, Taman Wisata Family sudah kurang hits lagi. Saya mengulas  tempat ini hanya untuk mengingatkan kenangan saya saat berwisata ke sini bersama orang-orang yang pernah memberi warna dalam hidup saya. Kok jadi sedih lagi ya T_T

Sekian. Sampai jumpa lagi ya! 

Selasa, 16 Januari 2018


Kampung Pecinan atau Kampung Cina adalah salah satu  perkampungan  tua yang terdapat di kota Bengkulu. Letak Kampung Cina sangatlah strategis, yaitu tak jauh dari kawasan Pantai Panjang dan berbatasan langsung dengan benteng Marlborough. Di dekat Kampung Cina terdapat pasar Barukoto. Pasar Barukoto adalah salah satu pasar tradisional di Bengkulu. 

  Oke, kembali ke topik. Siapa yang tidak tahu Kampung Cina. Masyarakat Bengkulu pasti sudah hafal dengan tempat ini. Namun, Kampung Cina zaman now tidaklah seperti Kampung Cina zaman old. Mari kita lihat!


Didorong rasa penasaran, akhirnya saya tiba juga di Pecinan dengan wajah barunya. Wah, ternyata tempatnya memang sudah bagus ya sekarang.


   Dulu, ingat ya, DULU, jika kita melewati daerah Pecinan ini yang tampak adalah bangunan-bangunan tua yang lusuh, sepi, dan (terkesan) suram. Seolah-olah tak ada kehidupan di sana. Sekarang pemandangannya sudah begitu berbeda. Ya, jika kita melewati Kampung Cina saat prime time alias sore hari atau week end, maka bersiaplah merasakan sedikit kemacetan di daerah sini. Iya, warga Bengkulu, terutama anak muda hobi memadati area ini. Mereka asyik berfoto-foto sambil menikmati suasana Pecinan yang khas. Maka tak heran, jika akhir-akhir ini, foto-foto Kampung Pecinan ini wara-wiri di sosial media. Tempat ini jadi nge-hits.

Memang akhir-akhir ini banyak tempat dipercantik di kota Bengkulu. Ya, salah satu tujuannya adalah untuk menarik wisatawan berkunjung ke Bengkulu dalam menyongsong #wonderfulbengkulu2020. Baca juga Nyantai di Taman Pantai Berkas Yuk!  Salah satu tempat yang kebagian dipercantik juga adalah Kampung Cina ini. Bagaimana tidak perkampungan ini menjadi saksi sejarah adanya masa penjajahan bangsa Inggris di Bengkulu. 

Menurut sejarah, bangsa Inggris-lah yang mengizinkan bangsa Tionghoa masuk ke Bengkulu. Sejak itulah bangsa Tionghoa mendiami perkampungan yang terletak tak jauh dari pesisir Pantai Panjang ini. Karena mayoritas penduduknya adalah bangsa Tionghoa/keturunan Tionghoa maka disebutlah tempat ini dengan nama Kampung Cina. Menurut KBBI kampung adalah desa atau dusun, maka Kampung Cina artinya adalah desa/dusun orang-orang dari Cina.


Fasilitas baru di Kampung Cina:

Kursi
Terdapat kursi-kursi cantik yang diletakan tak berjauhan. Kursi-kursi ini mejadi tempat favourite saat bersantai. Di Pecinan juga terdapat beraneka macam kuliner. Jadi, pengunjung dapat duduk santai sambil menikmati waktu sore dan menyantap kuliner yang dijajakan pedagang. Asyik ya...   



Lampu
      Dulu, Pecinan ini adalah salah satu wilayah yang saya hindari saat berpergian pada malam hari. Saya selalu mencari alternatif jalan lain. Ya, daerah ini cukup gelap. Hanya ada penerangan seadanya dari rumah warga. Keadaan yang gelap ini membuat kuduk merinding juga kalau lewat... hehehe. Tetapi, sekarang keadaan sudah berubah toral. Justru, malam hari adalah waktu terbaik untuk berwisata di sini. Ya, lampu-lampu cantik ini dinyalakan sehingga menjadikan suasana Kampung Cina semakin hidup. Mudah-mudahan warga sekitar tetap merasa nyaman ya dengan perubahan-perubahan ini.


Trotoar
     Awalnya trotoar di sini sudah rusak. Sebagain jalan di sini pun dulu sempat bergelombang alias kurang bagus. Namun, sekarang trotoar daerah Pecinan sudah dibuat sangat lebar. Bahkan, lebarnya lebih dari 2 meter. Dengan trotoar yang lebar ini pengunjung dapat leluasa berjalan dan berfoto. Seru ya!


Trotoar
Nah, itulah sekilas tentang wajah baru Kampung Pecinan Bengkulu. Jika Anda berkunjung ke Bengkulu jangan lupa mampir di sini ya! Ini salah satu tempat wisata sejarah yang dapat direkomendasikan.

Vihara Budhayana
Note: Sekarang tempat ini lagi nge-hits, alhasil hampir setiap hari ramai pengunjung. Untuk mendapatkan gambar yang sepi seperti ini saya berjuang keras... hehehe
Dua orang wisatawan asing sedang berwisata di sini berbarengan dengan kami... hehe. Sayang, saya tidak sempat mengabadikan mereka dengan baik, tapi lumayan juga ya saya dapat mengabadikan punggung mereka ^^