Jumat, 28 Juli 2017

Air Terjun Curug 9: Destinasi Wisata yang Tersembunyi (Explore Bengkulu)

  Air Terjun Curug 9 dari kejauhan
        SEBENTAR LAGI DARATAN!!! Itu adalah frase penghibur ketika energi kami sudah hampir habis. Ya, tebing panjang dengan kemiringan 60-90 derajat cukup membuat kami ingin menyerah. Putar arah, lalu pulang.
       Ya, itulah sedikit kisah perjuangan luar biasa kami untuk menjumpai si cantik air terjun curug 9. Air terjun curug 9 adalah air terjun bertingkat yang terletak di desa Tanah Hitam, kecamatan Padang Jaya, kabupaten Bengkulu Utara. Air terjun ini tersembunyi di antara rimbunan hutan yang merupakan kawasan konservasi TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat). Jadi, tidak heran jika di sepanjang jalur mata kita akan dimanjakan oleh pohon-pohon besar yang menjulang ke langit. Jika beruntung, kita dapat menemukan jejak-jejak harimau sumatra. Dan, rombongan kami berhasil menemukan sisah-sisah makanan hewan endemik sumatra tersebut. 
Teman-teman asyik berfoto dengan latar air terjun
         Akses untuk menuju air terjun curug 9 dari kota Bengkulu tergolong mudah. Kita dapat menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua. Dibutuhkan waktu kurang lebih 3 jam untuk tiba di desa Tanah Hitam dari kota Bengkulu dengan menggunakan mobil dan kurang lebih 2,5 jam menggunakan sepeda motor. Desa Tanah hitam adalah desa yang menjadi pintu gerbang untuk menuju Curug 9. Mayoritas penduduk di desa ini menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Hal ini terlihat dari hamparan perkebunan kelapa sawit, karet, dan kopi di sepanjang perjalanan.
        Sebelum memasuki desa Tanah Hitam, kita terlebih dahulu akan tiba di Simpang 4 Unit 1. Di sini seperti “pusat kota”, aneka kebutuhan tersedia. Jika kita tidak membawa logistik, maka kita dapat membelinya di sini. Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau, 15.000 rupiah saja untuk sebungkus nasi dengan lauk ikan atau ayam berbagai varian. 
         Posko di Desa Tanah Hitam
        Desa Tanah Hitam merupakan tempat sentral ketika akan berwisata ke air terjun Curug 9. Di desa ini terdapat Pos Komando (Posko). Posko ini berada di salah satu rumah warga. Sebelum melakukan perjalanan menuju air terjun kita wajib mengisi buku tamu. Kita harus mencatatkan identitas dan meninggalkan nomor HP yang dapat dihubungi untuk kenyamanan selama perjalanan. Biaya administrasinya pun cukup terjangkau. Tiket masuk Rp5.000,00/orang, sedangkan untuk biaya penitipan kendaraan adalah Rp15.000,00/mobil dan Rp5.000,00/motor.
        Setelah semua urusan administrasi di posko selesai kita dapat memulai perjalanan menuju Curug 9. Dari posko kita akan melewati jalan bebatuan. Di kiri dan kanan terdapat rumah-rumah warga yang rata-rata sudah permanen. Perjalan di jalan koral ini lebih kurang 30 menit. Semakin jauh perjalan kita, rumah-rumah warga semakin menghilang dan digantikan oleh barisan pohon karet dan sawit. Setelah melewati perkebunan ini, kita akan memasuki jalur menuju air terjun yang sebenarnya.

Jembatan kayu, di bawahnya terdapat aliran sungai yang cukup deras
          Pemandangan pertama adalah perkebunan kopi dengan jalan setapak. Terdapat kurang lebih 7 pondok petani di area perkebunan kebun kopi ini. Track yang dilalui masih tergolong mudah. Jalanan setapak yang kita lewati cukup datar sehingga tidak begitu menguras energi. Namun, jika kita sudah tiba di pondok terakhir, artinya kita akan memasuki track yang cukup sulit. Di sinilah terdapat tanjak-tanjakan serta sungai-sungai yang cukup membuat (saya) kehabisan tenaga.
         Terdapat dua tanjakan dengan kemiringan mencapai 90 derajat, sedangkan sisahnya adalah tanjakan-tanjakan dengan kemiringan 60-80 derajat. Untuk melewati tanjakan ini, kita tak ubahnya sedang memanjat tebing. Ya, tanjakan ini sangat mengandalkan cengkraman tangan dan tumpuan kaki yang kuat. Jika tidak berhati-hati kita dapat terguling ke jurang. Dan, itu sangat berbahaya.
         Di tanjakan 90 derajat pertama (dihitung dari jalan pulangnya) kita melewati tanjakan dengan cengkraman dan tumpuan yang terdiri dari akar-akar pohon dan kayu-kayu yang sengaja dipasang seiring bertambahnya minat wisatawan. Di tanjakan 90 derajat kedua, kita melewati tanjakan dengan tumpuan yang terdiri dari batuan. Kita harus ekstra hati-hati, terlebih lagi jika turun hujan. Batuan ini menjadi sangat licin.  
       Terdapat tiga sungai kecil dan satu sungai besar dengan jembatan kayu yang mulai rapuh. Di sungai-sungai kecil ini kita akan menngunakan batu untiuk menyeberang, sedangkan di sungai besar kita akan menggunakan jembatan kayu. Kita harus berhati-hati karena jembatan kayu ini mulai rapuh.

  Harus melewati tangga dengan ketinggian di atas 5M untuk tiba di bawah
         Kurang lebih 30 menit dari air terjun terdapat dua tangga kayu yang harus kita lewati. Kita juga harus berhati-hati, tangga kayu ini mulai rapuh dan sangat licin saat hujan turun. Biasanya, teman-teman yang takut ketinggian akan berusaha keras sekali melawan ketakutannya untuk dapat melewati track ini. Konon, sebelum dibuat tangga-tangga kayu ini, wisatawan mengandalkan akar pohon untuk naik dan turun. Ya, bergelantungan seperti di film-film Tarzan.

 Teman seperjalanan yang berjuang dari awal hingga akhir
         Rasa lelah terbayar sudah ketika dari kejauhan kita sudah melihat embun-embun menguap ke angkasa. Ya, air terjun curug 9 mengeluarkan embun-embun putih yang begitu memukau. Hati semakin riang ketika berlahan terdengar suara aliran air. Ya, kita tiba di air terjun curug 9 yang begitu alami.  Di bawah air terjun terdapat batuan besar yang biasanya  digunakan pengunjung untuk ber-selfi-ria atau untuk sekedar duduk manis menikmati terpaan air yang begitu dingin.
       Air terjun Curug 9, konon katanya memiliki air terjun 9 tingkat. Ajaibnya lagi, menurut salah satu narasumber (warga lokal) air terjun ini jumlahnya akan berbeda-beda, bergantung mata orang yang melihatnya. Wallahualam. Yang jelas, mataku melihat air terjun ini berjumlah 4 aliran.
           
Catatan:  Dibutuhkan sekitar 7-8 jam pulang-pergi (PP) dari posko ke air terjun dan dibutuhkan sekitar 5-6 jam pulang-pergi (PP) dari kota Bengkulu ke desa Tanah Hitam.  Jadi, selain persiapan fisik yang baik dibutuhkan juga time management yang matang. Mengingat track untuk menuju air terjun cukup panjang, dan cukup ekstrem, sebaiknya lakukan persiapan yang terbaik Jika kondisi fisik kita memang tidak memungkinkan, maka tidak perlu memaksakan diri untuk  melakukan perjalanan ke Curug 9 karena hal ini dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Si bijak mengatakan, “tujuan perjalanan adalah pulang dengan selamat.” Soe Hok Gie menuliskan “Berbagilah waktu dengan alam, maka kau akan mengenali dirimu.” (Catatan Seorang Demonstran)


1 komentar:

Terima Kasih Sudah Meninggalkan Komentar