Rabu, 22 Januari 2020

Wisata Sejarah Lobang Jepang Bukittinggi


Hollaaaa...... Setelah sekian lama, akhirnya kembali nulis juga. Alhamdulillah ya Allah, ternyata aku  masih  punya semangat...

Tulisan perdana di awaal tahun ini tentang berwisata ke Lobang Jepang. Hmm... Ini juga pertama kalinya traveling bareng pasangan.

Perjalanan kali berbarengan dengan kegiatan pelatihan. Kebetulan saya dan suami melakukan pelatihan di tempat dan waktu yang sama. Nah, moment ini juga kami jadikan sebagai ajang untuk jalan-jalan alias melalar. Ya, maklumlah, sejak menikah kami belum pernah melakukan perjalanan bersama... hehe
Penampakan Lorong Lobang Jepang

Lobang Jepang terletak di pusat kota Bukittinggi. Selain jam Gadang, tentu saja tidak afdol rasanya ke Bukittinggi tanpa menginjakkan kaki di Lobang Jepang.

Saya menginap di hotel yang tak jauh dari lokasi wisata Lobang Jepang. Tetapi, hotel yang saya inapi lebih dekat lagi dengan lokasi wisata Jam Gadang. Dari kamar hotel, saya dapat melihat puncak jam Gadang dibalik rimbunan pepohonan. terlebih lagi jika malam tiba, sinar lampu dari Jam Gadang sampai ke kamar hotel lho! Beruntungnya saya menginap di hotel ini ya.

Pintu Masuk Taman Panorama
Sebelum Masuk Kita Membeli Karcis ya  

Oh iya, jarak antara tempat saya  menginap dan wisata Lobang Jepang dekat lho! Cukup berjalan kaki sekitar 10-15 menit saja, bergantung pada kecepatan kaki juga ya. Oh iya, jika tidak ingin berjaln kaki, kita bisa naik bendi  lho, cukup membayar Rp30.000 saja. Dengan uang 30k kita sudah bisa menikmati keindahan pemandangan sepanjang jalan menuju wisata Lobang Jepang dari atas kuda. Oh iya, bendi itu delman lho. Saya baru tahu orang Bukittinggi menyebutnya bendi. Selama ini saya tahunya ya delman... hehe

Lorong Lobang Jepang
Siang itu, lepas tengah hari saya dan suami bergerak menuju tempat wisata Lobang Jepang. Rencana berwisata ke sini memang sudah kami rencanakan jauh hari. Kami memilih berjalan kaki. Berjalan kaki di Bukittinggi snagatlah asyik. Udara perkotaan begitu sejuk. Kita tidak akan merasa gerah.

Waktu itu, kami belum tahu dimana lokasi wisata ini terletak. Konon katanya, Lobang Jepang tak jauh dari tempat kami menginap. Selain berbekal informasi tersebut, kami juga mengandalkan  google maps. Takut nyasar sih. Ya, ternyata lumayan berkeringat juga berjalan kaki ke Lobang Jepang. 

Taman Wisata Panorama Ngarai Sianok
Di Sinilah Wisata Lobang Jepang Berada
Wisata Lobang Jepang berada dalam lokasi wisata Taman Panorama. Untuk, masuk ke Taman Panorama kita membayar tiket seharga Rp15.000. Sedangkan untuk masuk ke wisata Lobang Jepang kita dikenakan tiket seharga Rp20.000. Jika ingin memakai jasa tour guide, kita cukup membayar Rp80.000 saja. Kita akan didampingi mengelilingi setiap sudut Lobang Jepang plus mendapatkan informasi lengkap seputar tempat keren ini.

Oh iya, jika ingin mencoba mengelilingi setiap sudut Lobang Jepang tanpa guide, tidak ada salahnya juga lho! Tidak perlu khawatir nyasar. Sebetulnya Lobang ini tidak terlalu luas kok. Lagi pula, wisatawan lain banyak di dalamnya. Kita dapat mengandalkan mereka untuk sekedar bertanya atau mengekor... hehe

Namun, waktu itu saya dan suami memakai jasa tour guide untuk memandu kami mengelilingi setiap lorong di Lobang Jepang.

Terowongan Lobang Jepang
Sebetulnya waktu itu saya ingin menjelajah setiap lorong Lobang Jepang tanpa guide. Saya ingin mendapatkan pengalaman yang berbeda. Lebih seru saja. Ya, meskipun telah menikah, jiwa petualang saya masih membara. Namun ide saya ditolak  suami. Dia ingin sekali menggunakan guide. Yooo, dari pada berdebat akhirnya saya ikut beliau.

Sambil ditmani guide yang masih muda, kami memasuki setiap lorong di dalam Lobang Jepang yang cukup gelap. Meskipun gelap, di dalam lobang terdapat lampu di beberapa titik untuk memudahkan pengunjung melihat-lihat setiap sudut di dalam lobang. Meskipun berbentuk lorong yang panjang, di dalam lobang ini udaranya sejuk lho!

Guide kami menjelaskan setiap detail lorong yang kami datangi. Dia juga menceritakan sejarah terbentuiknya Lobang Jepang pada zaman dahulu hingga Lobang Jepang masa kini yang telah menjadi tempat wisata.

Saya perhatikan, suami saya mendengarkan setiap penjelasan guide dengan penuh konsentrasi. Sesekali ia mengeluarkan pertanyaan. Sedangkan saya? Jangan tanya apa yang saya lakukan. Saya sibuk mengambil gambar. Saya pikir, untuk informasi seputar Lobang Jepang saya bisa bertanya dengan soulmate saya tersebut.... hehe
Sebelum Tiba di Lorong Lobang Jepang,
Kita Menuruni Tangga Dulu Ya
Lobang Jepang merupakan peninggalan Jepang pada masa menduduki Bukittinggi pada tahun 1942. Lobang Jepang bentuknya menyerupai terowongan. Terowongan ini dulunya merupakn tempat pertahanan tentara Jepang dalam menghadapi musuh.

Dari guide kami tahu bahwa terowongan ini dibuat oleh pekerja pribumi. Sambil bekerja secara paksa, mereka juga disiksa. Ya, bagi mereka yang tewas pada saat bekerja mayatnya langsung dibuag ke bawah melalui terowongan kecil. Duhh... ngerinya! Saya tidak dapat membayangkan betapa menyeramkan peristiwa itu.

Suami dan Guide sedang Mengintip Terowongan
Untuk Membuang Pekerja yang Telah Meninggal
Guide yang baik ini menjelaskan, ada beberapa hal yang masih menjadi misteri terkait terbentuk Lobang Jepang hingga saat ini. Yang pertama, untuk berapa jumlah pekerja yang membangun terowongan ini belum diketahui pasti jumlahnya. Kedua, sisah galian tanah dari terowongan ini dibuang kemana belum juga diketahui informasi pastinya.  

Di Dalam Ada Penjara Juga Lho!
Ternyata terowongan Lobang Jepang ini sudah mengalami pemugaran. Dulunya, terowongan ini adalah tanah berukuran kurang lebih satu meter. Namun oleh pemerintah Bukittinggi Lobang Jepang ini diperbesar dan disemen untuk kepentingan wisata. Bahkan, saya melihat  mushola di dalam terowongan. Tetapi, mushola itu tidak digunakan lagi. Pokoknya, tempat ini sudah disulap menjadi lokasi wisata sejarah yang sangat menarik. Keren ya!! 

Saat di dalam terowongan, saya sesekali mendengar suara kendaraan di jalanan. Yap, di bagian atas terowongan adalah jalan raya. Konon, kita dapat menuju Jam Gadang melalui terowongan Lobang Jepang ini lho! Namun, aksesnya sekarang sudah ditutup. Saya pun tidak menanyakan langsung pada guide yang menemani kami. Saya terlalu asyik mengambil foto... Hehehe

Tempat Mnegintai Musuh
Setelah puas mengelilingi setiap penjuru Lobang Jepang, kami memutuskan untuk keluar. Pintu keluar dan pintu masuknya beda lho! Pintu masuk berada di taman wisata Panorma, sedangkan pintu keluar berada di jalan menuju taman wisata Ngarai Sianok. Sebelum keluar, tak lupa kakak guide menginfokan kepada kami sebuah desa dari tokoh pendidikan Sumatera Barat yang legendaris, yaitu H. Agus Salim. Ya, semoga saya tidak salah mengingat info ini ya. Dari dalam terowongan kami dapat melihat desa tersebut. Sebuah desa yang berada di ketinggian. Untuk tiba di desa tersebut, kita harus menaiki tangga yang cukup banyak. Kami penasaran dan berminat untuk melihat desa tersebut. Walaupun kaki sudah sedikit kelelahan kami masih semangat. Sekalian berwisata ke Ngarai Sianok. Itu yang terlintas di benak kami.

Di Dalam Lobang Jepang
Setelah keluar dari gerbang belakang Loban Jepang, kami kebingungan menentukan jalan mana menuju desa yangingin kami tuju. Akhirnya, kami bertanya dengan bapak-bapak yang duduk-duduk di sekitar. Berbekal info dari sang bapak kami mulai menyusuri jalan menurun di hadapan kami.  Dalam perjalan ini, kami berapa kali bertemu dengan rombongan yang mulai pulang dari arah berlawanan. Setelah berjalan sekitar 10 menit, kami menemukan tempat yang kami cari. Tetapi, kami putar arah. Sudah letih rasanya. Hari pun sudah semakij petang.

Karena sudah letih kami duduk di ponddokan di tepi sawah sambil memandang sebuah penginapan khas Minangkabau di seberangnya. Saya membayangkan ingin menginap saja di sana... hehe
Kami Istirahat Di Sini Sebelum Kembali ke Hotel
Ya, angin, sepoi-sepoi di sekitar pondok yang kami singgahi cukup mengurangi rasa letih kami. Tetapi tidak mampu mengurangi kering kerongkongan kami. 

Usai dirasa energi pulih kembali, kami melanjutkan perjalanan, ya pulang ke hotel. Kami urungkan niat untuk melihat desa masa kecil H. Agus Salim. Tak sanggup rasanya menjajaki janjang alias tangga yang berjumlah ratusan itu... Hehe

*Mohon maaf ya kalau ada informasi yang kurang ^^




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Sudah Meninggalkan Komentar. Mohon tidak meninggalkan link hidup 😊