Minggu, 20 Agustus 2017

Serunya Mandi di Muara Kedurang

Sungai Muara kedurang

Kata seorang wonder women, perjalanan itu harus dinikmati. Kata kunci ketika melukan sebuh perjalanan adalah enjoy, happy, dan yang terpenting adalah safety.
    Tepat tanggal 6 Agustus 2017 lalu kami merencanakan perjalanan ke arah selatan. Tujuan kami adalah mencari sungai. Ya, aku pikir ini adalah ide yang bagus. Toh... sudah lama juga aku tidak mandi sungai. Ya, terakhir kali aku merasakan dingainnya air sungai saat moment KKN, kurang lebih 3 tahun yang lalu. Sudah rindu juga rasanya masa-masa manis itu.
Kebetulan salah satu teman perjalanku sudah beberapa kali mandi sungai di sepanjang daerah selatan. Ya, agar tidak mandi di sungai yang sama, sebanyak dua kali, kami pun mencari sungai yang belum pernah didatangi oleh temanku. Akhirnya, pilihan kami jatuh pada sungai Muara Kedurang.
Sungai Muara Kedurang memang begitu menarik. Sungai ini terletak tepat  di bawah jembatan. Jembatan besar ini dijadikan pembatas antara kecamatan Manna dan kecamtan Kedurang. Jembatan ini terhimpit di antara desa Tanjung Aur dan Lubuk Ladung. Jadi, tidak heran rasanya anak-anak dari kedua desa tersebut mandi bersama. Bisa jadi, letak desa mereka yang berdekatan membuat mereka berteman akrab. 


Mandi Bersama Bocah-Bocah Pemburu Pusaran Air
Dari kejauhan kami sudah berteriak kagum. Wahh.... mata kami sudah dimanjakan oleh jernihnya air muara. Deburan ombak di sampingnya semakin menggelitik hati kami untuk segera turun dari mobil dan menjejakan kaki di antara bebatuan yang cantik. 
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) muara adalah tempat berakhirnya aliran sungai di laut atau dengan kata lain muara adalah sungai yang dekat dengan laut. Nah, terbayang sudah betapa indahnya air tawar dan air asin duduk berdampingan J
Pantai Muara Kedurang atau ada juga yang menyebutnya Sungai Muara Kedurang. Ya, kedua sebutan ini benar. Di sini, Sungai dan pantai ini saling berdekatan. Ya, hanya dibatasi oleh bebatuan yang berbaris tepat di pinggir   pantai. Saat berdiri di sungai kita dapat melihat gulungan ombak dan mendengar deburan ombak. Sebaliknya, saat berdiri di laut kita dapat melihat sungai yang begitu jernih. Fenomena alam inilah yang membuat Muara Kedurang berbeda dengan sungai atau pantai lainnya. Saat datang ke sini pengunjung dapat menikmati dua fenomen alam secara bersamaan.

Akses untuk tiba di Muara Kedurang tergolong mudah. Dibutuhkan sekitar 4-5 jam perjalanan untuk tiba di sana menggunakan mobil. Jika kita menggunakan travel ongkonsya sekitar 60-70 ribu rupiah. Kendaraan dapat masuk sampai ke pinggir sungai dan pantai melalui jalan setapak yang berada atas jembatan. Jalan setapak ini kondisinya tidak terlalu bagus. Maka, pengunjung sebaiknya berhati-hati.
Waktu terbaik untuk mandi di sini adalah siang hingga sore hari. Menjelang sore biasanya di sini anak-anak sudah ada anak-anak desa setempat yang mandi. Mereka begitu manis dan ramah. Mereka tak segan-segan menjadi guide dadakan. Mereka akan memberitahu kita letak bagian-bagian sungai yang dalam sehingga kita merasa aman saat mandi. Selain itu, mereka juga dapat menjadi pelatih renang dadakan. Anak-anak manis yang begitu baik. Ya, mereka kembali membuka lembaran memori masa kecilku.
Di tengan-tengah sungai terdapat bagunan besar yang berbentuk tabung berdiameter 1-2 meter. Konon, pada zaman penjajahan bangunan besar ini rencananya akan dibuat jembatan. Namun tampaknya tidak terealisasi dan hanya meninggalkan beberapa bangunan yang kokoh. Jika kita tidak pandai berenang sebaiknya tidak mandi di area bangunan ini. Terdapat beberapa lubuk sedalam hampir dua meter (menurut perkiraanku). Bagi anak-anak setempat lubuk inilah yang menjadi spot sangat menarik. Mereka akan meloncat dari bangunan lalu berenang ke tepian. Di sini juga banyak terdapat pusaran air. Anak-anak ini berlomba-lomba untuk memecahkan setiap pusaran air yang lewat. Maka, dalam tulisan lain aku menyebut anak-anak manis ini sebagai bocah-bocah pemburu pusaran air.  Pusaran air adalah air yang berputar. Anak-anak akan langsung meloncat ketika pusaran air datang. Suatu kebanggan tersendiri bagi mereka ketika berhasil memecahkan pusaran air tersebut.
Sungai Muara Kedurang berbeda dengan sungai-sungai pada umumnya. Arusnya tergolong tenang dengan bebatuan kecil di dalamnya. Batu-batu ini tegolong aman untuk dipijak dengan kaki telanjang, hanya saja sedikit licin. Kita harus berhati-hati agar tidak tergelincir. Nah, jika anda berperjalanan ke arah selatan tak ada salahnya merasakan segar air Muara Kedurang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Sudah Meninggalkan Komentar