Selasa, 07 November 2017

Stadium General Munas ke 4 FLP di Bandung: Menjaga Identitas Bangsa di Era Digital


Foto Bersama di Alun-Alun

Tidak terasa Forum Lingkar Pena (FLP) sudah berumur 20 tahun. Jika dianalogikan dengan manusia, maka FLP adalah seorang remaja yang beranjak dewasa. Tidak heran rasanya jika perkembangan dunia literasi sudah berubah pesat. Perkembagan literasi di zaman now turut juga dirasakan aktivis FLP.
Pada tahun ini FLP melaksanakan musyawarah nasional (MUNAS) di Bandung. Munas yang berlangsung tangal 3-5 November ini dihadiri oleh hampir 300 peserta dari seluruh Indonesia.


Pembukaan MUNAS ke-4 ini berlangsung di Balai Kota Bandung. Dalam kesempatan ini juga dilaksanakan stadium general. Stadium general yang mengangkat judul  Menjaga Identitas Bangsa di Era Digital ini menghadirkan 3 pembicara handal. Mereka adalah Masdar Zainal, Nenden Lilis Aisyah, dan Helvy Tiana Rosa. Untuk moderatornya ditunjuklah Gegge Mappangewa.
Pembicara pertama adalah Mashdar Zainal. Sosok muda yang berprestasi. Beliau adalah penerima penghargaan Sastra Acari. Pembicara kedua adalah Nenden Lilis Aisyah. Beberapa karyanya sudah diterbitkan dalam bahasa asing. Pembicara ketiga adalah Helvy Tiana Rosa.  Ketua umum pertama FLP ini baru saja memproduseri film  berjudul Duka Sedalam Cinta yang diangkat dari novelnya sendiri.
Pembicara Kedua: Nenden Lilis Aisyah

Mashdar Zainal Mengungkapkan keprihatinannya terhadap perubahan yang terjadi dewasa ini.  Betapa tidak, perubahan yang “mengerikan” ini menyasar anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa. Kids zaman now tidak dapat merasakan pengalaman-pengalaman kids zaman old. Anak-anak sudah kehilangan identitasnya sebagai anak-anak yang notabene-nya bermain da bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Kids zaman now kecanduan gadget. Hal ini dapat mempengaruhi perkembangan dunia literasi di masa yang akan datang karena anak-anak tidak belajar “menulis” maka generasi penerus literasi dapat saja hilang.
Nenden Lilis Aisyah mengatakan bahwa Bandung merupakan barometer sastra Indonesia. Dalam presentasinya kali ini ia mengangkat judul Bandung dan Dinamika kesusastraannya. Elemen yang berperan membangun kesusastraan di Bandung adalah penerbit dan media massa, komunitas kampus, dan komunitas non kampus. Penulis-penulis di bandung sangat terbantu dalam menyampaikan gagasan kepada khalayak ramai. Menurut teh Lilis, sebelum era digital, buku-buku sangat mengoptimalkan literasi. Sastrawan benar-benar berjibaku dengan media massa dan cetak-mencetak. Seiring berjalannya waktu, perubahan pun terjadi. Tradisi literasi berkurang karena minat membaca masyarakat juga menurun.

Pembicara Ketiga: Helvy Tiana Rosa

Helvy Tiana Rosa mengatakan bahwa di era serba digital ini penulis harus kreatif dan inovatif.  Penulis harus menerima perubahan yang terjadi. Perubahan-perubahan yang ada jangan dijadikan alasan untuk berhenti berkarya, justru penulis harus lebih kreatif. Penulis harus terus berkreasi dalam dunia literasi. Penulis harus melek digital. Kreasi yang dapat dilakukan:
      Teks : Blog, caption, tulisan, opini di media sosial
      Audio: berupa musik dan video
Karya ini dapat distribusi dapat dalam bentuk online maupun offline. Secara online dapat melalui berbagai media sosial seperti Instagram, Facebook, Youtube, dan Blog. Secara online dapat melalui berbagai macam event, seminar, workshop, dan pelatihan.

Tepat sebelum sholat Jumat, stadium general diakhiri dengan sesi foto-foto. Sebuah sesi yang selalu ditunggu-tunggu. 

17 komentar:

  1. Iyah, gak kerasa udah 20 tahun aja, seumuran sama aku, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. Keren banget mba makasih ya infonya

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. saat munas banyak banget aku liat ni foto2
    keren banget acaranya
    sukses terus buat flp

    BalasHapus
  5. Wiiiih FLP sudah lama juga ya Mba, kemarin liat foto-foto munasnya di sosmed. Semoga semakin jaya FLP :)

    BalasHapus
  6. Semoga semakin di depan dalam menelurkan penulis berkualitas flp

    BalasHapus
  7. FLP udah dua puluh tahun? Wah.. Semoga FLP bisa terus menghasilkan penulis-penulis keren.. ^^

    BalasHapus
  8. Saya pun pernah berkecimpung di FLP saat masih kuliah. Saya belajar berkarya dan menulis di FLP.

    BalasHapus
  9. aku dulu kepikiran daftar FLP, tapi eh tapi setelah dilihat-lihat kok aku merasa belum layak dibilang penulis gitu ckckckkkk....seru ya kegiatannya :)

    BalasHapus
  10. Flp emng keren. Apalagi datang munas langsung. Penulis senior di Flp emng pada ketce badai. Haha

    BalasHapus
  11. Flp emng keren. Apalagi datang munas langsung. Penulis senior di Flp emng pada ketce badai. Haha

    BalasHapus
  12. Wah, aku kok belum jadi juga ya gabung di komunitas kece satu ini. Padahal kegiatannya banyak banget. Ntar, aku japri ya buat tanya-tanya

    BalasHapus
  13. Jadi pengen bergabung juga di FLP tp sayang masih belum pede hehehe

    BalasHapus
  14. wow tempat berkumpulnya penulis-penulis hebat

    BalasHapus

Terima Kasih Sudah Meninggalkan Komentar