Senin, 18 Desember 2017

PANTERA X ELHIJAB PRESENT: EKSPEDISI NETRA ATAU BLIND EXPEDITION


Ekspedisi Netra atau Blind Expedition adalah sebuah kegiatan pendakian tuna netra, kolaborasi antara PANTERA FISIP UNPAD x ELHIJAB bersama PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia) Kabupaten Bandung. Pendakian ini dilakukan di Gunung Manglayang pada tanggal 2-3 Desember 2017 yang bertepatan dengan Hari Disabilitas Internasional. Melalui kegiatan ini, sebanyak 20 orang penyandang disabilitas netra dapat membuktikan bahwa stigma negative yang ada di masyarakat tidaklah benar. Salah satu stigma negative tersebut antara lain memandang bahwa disabilitas adalah sebuah keterbatasan. Kegiatan ini juga memberikan peluang kepada para penyandang disabilitas untuk melakukan sebuah kegiatan yang biasa dilakukan oleh orang “awas” pada umumnya. Mereka dapat merasakan bagaimana tantangan ketika mendaki gunung juga berbagai perasaan yang muncul ketika naik gunung.

Selain itu, kami pun berusaha untuk menginspirasi teman-teman yang memiliki kasus serupa dengan kami di tempat lain dan untuk membuka mata dunia bahwa kegiatan di alam bebas yang beresiko tinggi pun dapat dilakukan oleh disabilitas netra dengan teknik dan alat yang tepat.
 
Foto Kegiatan Ekspedisi Netra
Sumber Foto: Instagram @coach.aaboy


Keberhasilan Ekspedisi ini salah satunya dapat dicapai dengan dibekali latihan fisik dan teknik. Dalam mendaki gunung, fisik merupakan hal yang harus diperhatikan karena mendaki gunung merupakan kegiatan yang menguras banyak tenaga dan terkadang cuaca di atas gunung tidaklah menentu. Sementara teknik di alam bebas dinilai sangat penting karena berguna bagi para pendaki agar siap dalam menghadapi situasi apapun yang terjadi.

Setelah berhasil melakukan kegiatan pendakian, kami akan melakukan pemutaran film selama pendakian juga diskusi bersama para tokoh nasional yang dilaksanakan pada Senin, 18 Desember 2017. Adapun para tokoh tersebut antara lain Sabar Gorky, Herman Lantang, Iwan Abdulrachman dan Addy Gembel.

Kronologis Pendakian Ekspedisi Netra:

           
Hari pertama, Sabtu 2 Desember 2017
20 peserta pendakian Ekspedisi Netra yang terdiri 8 orang dewasa netra dari Pertuni Kab. Bandung, 7 laki-laki dan 1 perempuan, serta 12 orang siwa-siswi dari SLB A Negeri Bandung, 9 laki-laki dan 3 perempuan diberangkatkan dari kampus Fisip Unpad, di Jatinangor, setelah sarapan pagi, periksa kesehatan, pemanasan, dan upacara pembukaan dan pemberangkatan. Dari kampus Fisip Unpad yang merupakan markas pecinta alam Pantera, penggagas Ekspedisi Netra, peserta atau para pendaki netra dibawa angkutan milik kampus Unpad, yang ditemani para pendamping dari Pantera sendiri, Para guru SLB A Negeri Bandung, dan volunteer dari Elhijab, Himpala Elcorp, ke kaki Gunung Manglayang. Barubeureum.

Dari Barubeureum, tim ekspedisi yang dibagi 4 kelompok ini, mulai mendaki Gunung Manglayang. Mereka harus melewati 6 pos pendakian, dengan medan yang cukup berat, tanjakan yang vertikal, jalur yang berjurang, dan trek yang harus menggunakan tali karmantel untuk membantu pendakian. Untunglah, beberapa bulan ke belakang mereka dan tim Pantera kerap melakukan latihan dan simulasi di kawasan hutan Unpad dan bahkan jalur pendakian awal Manglayang, Barubeureum. 4 jam lebih mereka melakukan pendakian, dan selamat sampai di puncak tanpa kendala apa pun. Cuaca pun mendukung: cerah dan berhawa sejuk. Salut kepada para pendaki netra, dalam kondisi darurat sekalipun mereka bisa melaksanakan ibadah sholat dengan baik, dan selalu berjamaah.

Di puncak, tim pendamping yang tidak hanya dari Pantera, SLB A Negeri Bandung, dan Himpala Elcorp, mereka juga dibantu puluhan volunteer dari pelbagai kalangan, banyaknya dari anggota pecinta alam lain, dalam memberi fasilitas kepada para pendaki netra. Termasuk mendirikan tenda, penyediaan makan dan minum, dan api unggun di puncak. Untuk tim medis Ekspedisi Netra dibantu 3 paramedis dari Stikes Unjani Cimahi. Malam pendakian ditutup dengan perkenalan antar pendaki dan pendamping, juga persembahan dari beberapa pendaki netra dan pendamping: puisi, bernyanyi, penampilan suling dan karinding. Jam 10 malam semuanya terlelap.

Foto Kegiatan Ekspedisi Netra
Sumber Foto : Instagram @coach.aaboy

Setengah 4 pagi pendamping membangunkan para pendaki netra untuk siapsiap sholat subuh berjamaah. Setelah bangun dan shalat subuh mereka bersiapsiap untuk sarapan pagi dan upacara peringatan Hari Disabilitas Internasional di puncak Manglayang. Dalam upacara ini, panitia memberi ruang pada para pendaki untuk berkontribusi sebagai petugas upaca dan pembina.

Pembina upacara itu diberi kepercayaan kepada Ibu Shofi, pendaki dewasa perempuan satu-satunya, dan beliau pun dengan penuh semangat memberi amanat dan rasa syukur atas terlaksana pendakian gunung tuna netra terbanyak pertama di Indonesia ini. Dan peserta dari SLB A N Bandung yang diberi kepercayaan sebagai pembaca doa adalah Dede Iqbal. Peserta paling ceria dan bodor dalam pendakian tersebut.

Setelah upacara semua berdoa bersama dan foto bersama. Tim pun turun. Tapi ternyata medan turun lebih berat, padahal tim melewati jalur yang sama. Prediksi turun yang hanya 4 jam, jam 2 siang sudah di Barubeureum tidak tercapai. Tim harus kembali ke kampus sebagian dalam keadaan gelap, lewati magrib, untuk melanjutkan upacara penyambutan dan penutupan Ekspedisi Netra.

Upacara penutupan dipembinai oleh Pak Maman, tuna netra yang jadi ketua Pertuni Kab. Bandung dan juga guru di SLB A N Bandung. Sangat khidmat dan tertib. 20 pendaki netra pun bahagia sekali, terlebih ketika nama mereka satu per satu disebutkan oleh pembawa acara dalam sesi akhir upacara. Hadirin yang ikut upacara penutupan pun menyalami dan memeluk mereka ucapkan selamat. Ekspedisi Netra pun sukses.

Sementara itu, pada Senin 18 Desember 2017 di Bale Sawala Unpad Jatinangor akan diselenggarakan acara pemutaran film dokumenter dan diskusi dengan para pendaki Ekspedisi Netra.

Salam,
Tim Ekspedisi Netra




8 komentar:

  1. Wah alhamdulillah lancar pendakian oleh tuna netra. Ini terbanyak yaaa.Hebat semangat nyaa.
    Aku suka Naik gunung. Tapi blm pernah ke manglayang

    BalasHapus
  2. Mashaa Allah, baca ini bikin aku terinspirasi banget, hebat ya Mba temen-temen ini. Aku aja belum pernah daki gunung.

    BalasHapus
  3. ngomong-ngomong tentang daki mendaki nih ya, aku belum pernah mendaki gunung hehehheee...kalau bukit sering

    BalasHapus
  4. Keren banget. Jadi ngebuktiin kalau keterbatasan mereka ga jadi halangan untuk melakukan bnyak hal

    BalasHapus
  5. Luar biasa ya.. Kegiatan ini membuktikan kalau keterbatasan bukan sebuah penghalang untuk mencapai tujuan..

    BalasHapus
  6. Bahkan aku belum pernah mendaki gunung. Kalah nih sama mereka..

    BalasHapus
  7. Wooww!! Jiwa petualang yang menarik jadi kangen dengan massa kuliah dulu..sehabis baca artikel diatas..😊😊

    BalasHapus
  8. Sangat bagus buat diikuti bgai encinta petualangan

    BalasHapus

Terima Kasih Sudah Meninggalkan Komentar