Rabu, 20 Desember 2017

TERPIKIR (TERKADANG) UNTUK PENSIUN (Part 1)


Beberapa hari yang lalu, aku membaca berita yang menyedihkan. Media sosial penuh dengan berita tentang seorang pemuda meninggal dunia di Bukit Kaba karena terjatuh ke kawah. Terlepas dari apa penyebab dan alasannya aku turut prihatin mendengar kematian pemuda yang berasal dari desa Suban Ayam tersebut. Desa Suban Ayam terletak di kabupaten Rejang Lebong. Konon katanya, masyarakat asli Rejang Lebong (suku Rejang) tidak boleh naik ke Bukit Kaba. Barang siapa yang nekat melakukanya akan mendapatkan celaka. Waulahualam.
Berita ini, menjadi topik hangat juga di rumah. Kebetulan, abang, saya, dan adek, menyukai kegiatan alam bebas. Bahkan semasa kuliah, abang dan adek memang aktif di organisasi MAPALA. Sedangkan saya tidak.
Meskipun tidak bergabung di organisasi pecinta alam, saya juga menyukai aktivitas di alam terbuka seperti hiking, tracking, dan camping. Merasakan hidup di dalam hutan dengan segala tantangannya selama 3-5 memberikan kesan mendalam dalam hidup saya. Walaupun setelah keluar dari hutan kulit saya biru-biru atau sedikit memar-memar karena terbentur. Kulit bahu biasanya lecet karena menggendong carrier yang super berat. Belum lagi, sisa-sisa gigitan binatang pacat yang menghitam (biasanya akan hilang setelah lebih 2 minggu). Ya, tapi saya menikmati setiap resiko itu. Ya, itulah seni berpetualang di alam bebas.
Oke. Kembali ke laptop. Setelah membaca berita tersebut. Tiba-tiba saya merenungkan kegiatan-kegatan alam bebas yang telah saya lakukan selama ini. Satu persatu kenangan muncul dalam sebuah kaleidoskop.


Saya memiliki dua kenangan di Bukit Kaba.
Kenangan pertama adalah saat hiking semasa kuliah. Membaca peristiwa di atas, saya kembali teringat perjalanan saat itu. Saya dan 7 orang teman lainnya diserang oleh tawon tanah. Kami berlari kalang kabut di tepi jurang. Alhamdullilah tidak ada yang terjatuh. 
Gigitan tawon tanah berbeda dengan spesies tawon-tawon lainnya. Sekali menggigit, langsung berdarah. Mulut tawon tanah meninggalkan lubang yang besar dikulit. Saya tidak dapat membayangkan apa yang dirasakan teman saya saat itu, dari kepala hingga wajahnya penuh sengatan tawon. Akibat serangan ini, beberapa teman  langsung drop dan tidak dapat melanjutkan ke puncak.
Saya merasa berdosa. Saat itu saya yang berjalan di depan mungkin saja tidak sengaja menyenggol sarang tawon tersebut sehingga menyebabkan mereka marah. Akhirnya, teman-teman yang berjalan di belakang saya mendapat imbasnya. Baca juga Wisata Adrenalin Bukit Kaba 
Akibat kejadian ini, satu orang teman yang mendapatkan gigitan terparah terpaksa menginap di kabupaten Kepahyang karena harus dirawat di puskesmas.


     Kenangan kedua terjadi tepat setahun yang lalu. Kami berencana untuk membuka jalur baru menuju Bukit Kaba. Hal itu membuat kami mempelajari navigasi darat selama beberapa hari. Walaupun pada akhirnya kami gagal menemukan jalan dan putar arah. Pulang.
Kami hanya berhasil tiba di pergelangan kaki bukit. Malam itu kami mendirikan bivak di kaki bukit dengan kemiringan 60 derajat. Hujan terus mengguyur sore itu. Bayangkan betapa sulitnya hidup kami saat itu, di tengah hujan yang deras kami harus membuat tanah yang miring menjadi datar. 
Kami terpaksa mendirikan bivak di tebing karena hari sudah gelap, energi pun sudah habis untuk turun mencari tempat yang datar. Kami bahu-membahu menebas rumput, mencari cangkah kayu, dan membuat aliran air agar kami dapat beristirahat dengan nyaman (versi di dalam hutan).  
Mataku sulit terpejam. Saat akan tidur, beberapa pacat dan lipan (kelabang) lewat di sampingku. Taburan garam di sekeliling bivak tak dapat menghalangi mereka untuk mendekatiku. Bismillah saja, aku mencoba memejamkan mata. Suara pohon-pohon besar beradu di tengah hutan. Akhirnya, aku pasrah jika pacat, lipan, bahkan ular masuk ke dalam sleeping bag lalu menggigitku. Tapi, Alhamdullillah aku baik-baik saja. Ketakutan itu tidak terjadi. Aku terjaga saat menyadari pakaianku basah. Rupanya hujan tidak berhenti semalaman. Mengingat kenangan ini, aku merinding sendiri. Gak mau lagi gan!


Ya, aku memang lumayan sering tidur di hutan. Tetapi kejadian di atas ter-ekstrem.

Pengalaman ini juga bikin pengen pensiun
Ini cerita tentang backpaker-an ke Curup, jaraknya cukup dekat, sekitar 2-3 jam dari kota Bengkulu melewati pegunungan Liku 9.
Ya, setelah berpindah-pindah dari kebaikan satu ke kebaikan lainnya, akhirnya kami menemukan mobil yang langsung menuju tempat tujuan kami. Ah!! Beruntung sekali rasanya. Kami tidak perlu estafet dari satu kendaraan ke kendaraan lain bermodalkan jempol tangan.
Mobil carry bak terbuka ini adalah mobil pengangkut sayuran yang dikemudikan supir dan seorang kenek-nya. Menurut taksiranku, mereka berumur di bawah 25 tahun. Mereka baru pulang dari mengantar sayur ke kota. Ya, Curup adalah kota penghasil sayur-mayur terbesar di provinsi Bengkulu.
Baru beberapa menit berjalan, tiba-tiba saja pintu belakang mobil terbuka. Padahal beberapa teman menyandar di sana. Kami semua terkejut. Mendengar teriakan kami mobil berhenti. Supir turun dan memeriksa keadaan kami.
“Abang/Ayuk pintu mobilnyo la rusak. Jangan nyender yo.... duduk di depan bae.... lupo ngasih tau tadi”
Yaela Mang.... kasih tau kek sebelom kami naik. Agak kesel juga. Numpang ya numpang. Ga gitu juga kali.
Tapi, syukurlah tidak terjadi apa-apa. Kami selamat. Dalam perjalanan menuju Curup jantung kami selalu berdegup kencang. Ya, sopir ketjeh ini mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi dan selalu mengambil jalur tengah atau kanan. Kami pasrah, jika mobil ini  pada akhirnya adu kambing dengan kendaraan lainnya. 
Baru merasa sedikit lega tiba-tiba peristiwa ekstrem lainnya kembali di depan mata kami. Tiba di pegunungan Liku 9, kami melihat mobil masuk jurang. Setelah dilihat, ternyata penumpangnya adalah teman-teman sesama backpacker. Waduhh.... mobil yang kami tumpangi dan kendaraan lainnya ikut berhenti. Para pria bahu- membahu mengeluarkan mobil dari dalam jurang. Jalanan sempat macet sekitar satu jam. Tetapi syukurlah, tidak ada korban jiwa. Teman-teman hanya mengalami luka-luka ringan dan trauma yang mendalam pastinya
Ya begitulah nasib backpacker. Siapa yang mau tanggug jawab nyawa.

Pengalaman-pengalaman seperti ini terkadang membuat saya ingin pensiun segera.


 
Oke guys!!! Saya cukupkan dulu ya. Next time saya lanjutkan lagi.....

Catatan: foto-foto yang digunakan adalah koleksi pribadiWisata Adrenalin Bukit Kaba (Explore Bengkulu)

24 komentar:

  1. Hmmmmm

    Kalau kata aku sih nggak harus pensiun juga sih mbak
    Maybe bisa dikurangi aja jatah-jatahnya, atau dikurangi tingkat ke ekstriman nya, maybe bisa ke tempat tempat yang lebih nggak sulit

    Jadi hobi tetap tersalurkan keselamatan tetap terjaga hehe

    Tapi maybe kalau mau fokus keeee.. katakanlah, anak dan suami. Mungkin bisa pensiun deh uhuk uhuk

    BalasHapus
  2. Tapi kalo kegiatan begitu udh jd hobby, pasti susah banget ya mba utk bener2 pensiun. Krn bakal kepikiran dan mungkin ada rasa kangen pgn ngerasain lg. Kayak aku yaa, hobi bgt traveling. Hobi banget melakukan hal ekstrem. Tp bukan seperti trekking dan naik gunung. Kalo itu aku ga sanggub. Dan ga suka juga.

    Ekstreme pilihanku, itu kyk bungy jumping, rollercoaster yg masuk rekor dunia, rafting, parasailing dan yg setipe gitu. Untuk berhenti, sampe skr blm kepikiran. Walopun kdg baca berita2 ttg kecelakaan saat bungy, ato ada pengaman yg lepas pas naik rollercoaster, bikin takut sih. Tapi blm bisa bikin aku totally berhenti. Palingan yg aku lakuin, lbh hati2 memilih provider yg menyediakan permainan ekstreme begitu. Jgn tergiur murah doang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih... kalo berenti pasti kepikiran terus, tapi kalo lihat kejadian2 na'as-nya jadi pingin berenti... heheh

      Hapus
  3. Suka kagum sama yang suka traveling beginian...harus kuat fisiknya ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fisik harus kuat luar dalam... sebelum berangkat persiapan total, jangan sampe nyusahin temen seperjalanan ^^

      Hapus
  4. Dulu aku juga suka naik gunung dan kegiatan outdoor lainnya. Namun sudah setahun in ga naik gunung sama sekali.

    Pernah kepikiran buat "pensiun" dri itu semua, namun yaa ttp aja kdg rindu menikmati suasana gunung, hutan dan tawa canda teman seperjalanan.

    Sekarang masih sering camping ceria. Mungkin tahun depan dan jika ada waktu, bisalah sesekali naik gunung lagi dg lebih santai dan menikmati perjalanannya. Hiks 😁

    BalasHapus
  5. Kayaknya gak perlu pensiun deh mba, mbak bisa coba destinasi lain yg kira2 lumanyan aman bagi kita cewek. Hehe

    BalasHapus
  6. hahaha.... ngeri sekali tidur di hutan ya Mbak.

    Saya suka puncak gunung, tapi tidak se ekstrem ini mbak.

    Apalagi tidur ditemani binatang kecil yang melata. aduh.... ngeri dah.

    Mau tidur di atas pohon takut ada ularnya.

    Pensiun aja mbak. Heehe... saran sih...

    Tabik! saya Idrus Gorontalo.

    BalasHapus
  7. Warna warni mbolang di hutan.. ngeri.. kl misal bisa kemah d tempat yang lbh aman. Prefer yg lbh aman aja.. hehe

    BalasHapus
  8. Waa aku ngebayanginnya kayak film kingkong itu jadinya, mbak. Ngeri euy. Tapi salut sama hobinya. Saya jalan kaki aja nggak tahan lama-lama. Heu

    BalasHapus
  9. Aku sudah pensiun naik Gunung atau masuk hutan sejak kena asam urat enggak bisa jalan jauh hiks

    BalasHapus
  10. tidak ada kata pensiun untuk yang satu ini, bahkan kalau sudah menikah pengen muncak barang makmum :v

    BalasHapus
  11. Sya jg prnah di serang oleh puluhan tawon ktika jelajah ke satu sungai di hutan, plang dri sana langsung demam. Tp nggk bsa bayangin klau smpe diserang tawon tanah.

    Www.rahmataulia.com

    BalasHapus
  12. Wah keren mbak pengin ih bs muncak.. Tp skrg carinya destinasi yg datar2 aja.. Jangan pensiun mbak. Tar kangen lho

    BalasHapus
  13. Entah kenapa ya, kalau udah jalan2 gini pasti kepingin resign atau pensiun dari kerjaan ya.
    hahahhahaa...
    seru ceritanyaa

    BalasHapus
  14. Baca tulisan mbak junita..saya jadi ingat dulu pernah juga jalan sampai ke puncak bukit kaba cuma berlima,pake sendal dan bekal sebotol air mineral, emang sih gak menginap. sampai atas foto2 langsung balik.

    BalasHapus
  15. Baca tulisan mbak junita..saya jadi ingat dulu pernah juga jalan sampai ke puncak bukit kaba cuma berlima,pake sendal dan bekal sebotol air mineral, emang sih gak menginap. sampai atas foto2 langsung balik.

    BalasHapus
  16. Seru euy kisahnya! Yakin mau pensiun dari kegiatan halan-halan? Susah lho Mbak, haha!
    Kalau saya nggak pengen pensiun traveling Mbak, tapi pengen pensiun dari kerjaan untuk bisa terus traveling!

    BalasHapus
  17. Jadi ingat ceritamu yang buka jalur waktu direjang lebong itu jun, benar benar semangat

    BalasHapus
  18. Walaaah pengalamannya ekstrim banget ya. Saya masih takut jelajah alam yg serem2.

    BalasHapus
  19. Jadi kepengen jalan ke sana mbak. Aku belum pernah lho ke bukit kaba, hu um

    BalasHapus
  20. Widih mbaknya ekstrim juga :D Seumur ini saya belum pernah sekalipun hiking naik gunung, agak gimana gitu sama tempat tinggi. Paling tinggi cuma ke dempo itu juga naik mobil. Maklumlah anak pantai jadi hobinya ke laut aja.

    BalasHapus
  21. Berasa ikut berpetualang bersama Mb Juni. Udah pensiun aja #eh dan mendapat kerja yg bisa ngejalanin hobi, Aamiin. Ish aku jadi rindu berpetualang kayak gini, hiks

    BalasHapus

Terima Kasih Sudah Meninggalkan Komentar