Kamis, 08 Maret 2018

Stasiun Tugu, Negeri Senja, dan Kematian

Di stasiun Tugu, Yokyakarta, ada sebuah loket yang istimewa. Loket itu tidak menjual tiket ke Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Tempatnya terpisah dan nampaknya selalu sepi pembeli. Padahal di masa krisis seperti sekarang, kereta api menjadi pilihan utama, meskipun harga tiketnya sangat mahal. Apa boleh buat, karena harga tiket pesawat luar biasa mahal, dan boleh dibilang tidak masuk akal, harga tiket kereta api yang mahal itu bukan apa-apa. Para penumpang dari Jakarta langsung antri untuk mendapatkan tiket kembali. Itu pun barangkali untuk seminggu mendatang. Boleh dipastikan, tiket untuk akhir minggu sudah ludes seminggu sebelumnya. Loket-loket itu selalu penuh dengan pengantri. Makanya aneh sekali loket yang itu selalu sepi. Loket itu hanya menjual tiket ke satu tujuan, yakni Negeri Senja. 

Ya, itula adalah cuplikan cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Tujuan Negeri Senja.  Sebuah cerpen yang pernah saya baca beberapa tahun lalu. Ya, beberapa tahun yang lalu, saya lupa kapan tepatnya. Tujuan Negeri Senja adalah karya Seno Gumira Ajidarma yang pertama kali saya baca. Selanjut, saya mencintai karya-karya SGA.

Sore itu kota Jogja diguyur hujan. Jarum jam menunjukkan angka tiga. Janji berjumpa teman di kampus UNY batal seketika. Terbersit kecewa. Betapa tidak, sudah tahunan saya tidak berjumpa teman tersebut. Saya pikir, mumpung sedang berada di Jogja tidak ada salahnya saya mampir ke tempatnya sekalian main ke kampus UNY. Ya, kampus yang sempat saya cita-citakan untuk menempuh studi magister. Tapi, cita-cita  tetaplah cita-cita.. haha

Jauh sebelum hari H saya sudah menghubungi teman tersbut. Rute perjalanan sudah diatur sedemikian rupa. Tetapi rupanya takdir berkata lain. Menjelang sore hujan turun dengan deras. Karena pakaian yang saya kenakan sedikit basah, saya rasanya enggan  berkeliling lagi ke tempat lain. Saya ingin pulang saja dan beristirahat. Saya langsung mengabari teman, bahwa saya batal menemuinya di kampus UNY.

Setelah mengirim pesan kepada teman, saya memesan angkutan online. Tak lama yang saya tunggu datang. Saya minta antar ke stasiun Tugu. Tiket kereta api sudah ditangan. Ya, saya memesannya tadi pagi. Jadwal keberangkatan kereta sebetulnya pukul lima sore. Tetapi, pukul setengah empat saya sudah berada di stasiun, check in, lalu duduk di peron sambil menunggu kedatangan kereta.

Hujan sudah agak reda. Namun udara masih menebarkan bau basah seiring dengan pakaian saya yang berlahan mengering. Udara terasa menusuk hingga ke tulang. Saya iri melihat beberapa orang mengenakan jaket. Pasti nyaman rasanya. Saya mengutuk diri sendiri. Kenapa tidak membawa jaket. Ah, bukankah tadi matahari tadi begitu terik. Saya sampai menghabiskan seporsi es dawet dan dua botol air mineral.

Tiga puluh menit sudah berlalu. Bosan juga rasanya duduk sambil memainkan gawai. Jarum jam terasa begitu lamban. Saya semakin menggigil. Kereta tak juga kunjung datang. Ya, sembilan puluh menit yang panjang. Walaupun begitu, saya tetap berusaha menikmati waktu. Menikmati dingin yang saya kutuk sambil memperhatikan orang-orang di sekeliling saya dengan kesibukan mereka masing-masing. Udara semakin menusuk. Oh, Tuhan. Saya ingin segera tiba di Solo lalu mendekam di bawah selimut. Tak tahan lagi rasanya.

Akhirnya, kereta yang ditunggu segera tiba. Informasi tersebut saya dapat melalui suara seorang perempuan menggema di setiap sudut stasiun. Saya dan calon penumpang  mulai berjalan menuju peron. Saat kereta sampai mereka langsung rebutan agar mendapatkan tempat duduk. Saya santai saja. Tak mengapalah tidak mendapatkan kursi. Toh, saya dapat duduk di lantai. Tak masalah. Rasanya sama saja. Toh, perjalanan yang akan saya tempuh satu jam saja. Di depan pintu gerbong saya tak berharap mendapatkan tempat duduk.

Baca juga : Hidup Adalah Sebuah Perjalanan di Atas Kereta

Begitu masuk kereta rupanya masih ada satu kursi kosong. Saya duduk di samping seorang bapak. Di depan bapak tersebut duduk istrinya dan putra mereka yang (mungkin) berusia sekitar empat tahun. Di hadapan saya duduk seorang perempuan paruh baya yang anggun dan cantik. Saya melempar senyum tipis padanya. sebagai tanda "hai".

Kereta api menggaum. Berlahan meninggalkan stasiun Tugu. Mata ini memadang ke luar jendela. Tak ada senja di sana. Awan masih tertutup awan hitam. Mendadak aku melankolis. Ya, ini pertama kalinya aku menginjakan kaki di stasiun Tugu. Sebuah nama stasiun yang pernah saya baca dalam sebuah cerpen. Sebuah stasiun yang tak pernah terpikir sebelumnya bahwa saya  akan menginjaknya.

Dalam kemelankolisan itu, saya tiba-tiba teringat isi cerpen Tujuan Negeri Senja karya SGA. Dikatakan dalam cerpen tersebut bahwa setiap orang yang pergi ke Negeri Senja tidak akan pernah kembali. Kereta api jurusan Negeri Senja setiap hari datang meskipun tidak ramai penumpang. Penumpang kereta api tujuan Negeri Senja hanya beberapa orang saja dan mereka tidak pernah kembali.

Dari isi cerpen tersebut saya mencoba merefleksikannya pada kematian. Ya, dalam hidup ini, kematian begitu dekat dan datang setiap saat. Orang yang mati tak akan pernah kembali. Seperti halnya kereta api tujuan Negeri Senja yang datang setiap hari dengan penumpang yang tak pernah kembali.





32 komentar:

  1. KOk ngeri ya ceritanya, pergi ke sana dan tidak pernah kembali

    BalasHapus
  2. Ingat sakit, ingat mati, ingatlah saat kau sulit, ingat ingaaat, hidup cumaa satu kaliiii... hohoho

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, makanya kudu baik-baik dalam hidup ini cuma sekali soalnya

      Hapus
  3. Mbak aku penasaran sama cerpennya. Terus apa hubungannya dengan senja? Apa senja dilambangkan sbagai akhir kehidupan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baca aja pus, di google banyak kok cerpen SGA yang ini
      Senja di sini maksudnya akhir dari kehidupan kali ya

      Hapus
  4. Balasan
    1. Baca aa cerpennya kak, ga ngeri kok aslinya

      Hapus
  5. Jauh-jauh dah mbak dar stasiun gituan, ngeri

    BalasHapus
  6. ini pengalaman yang sulit dilupakan ya mba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rata-rata perjalanan saya emang berkesan sih.. hehe

      Hapus
  7. jadi penasaran sama cerpen SGA mba hehe

    BalasHapus
  8. Menurutku, perjalanan itu emang rentan banget memainkan emosi. Kadang riang, kadang jadi mellow & pikiran terbang jauh. Tapi itulah indahnya perjalanan, bikin kita semakin mengenal & akrab sama diri sendiri. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaa... ini aku sepakat banget sama Intan

      Hapus
  9. Sebagai pengingat kalo selalu ada akhir untuk setiap perjalanan ya mbak. Biar lebih banyak bersyukur & menjadi bermanfaat selagi bisa. :)

    BalasHapus
  10. Setiap perjalanan pasti akan menemukan pemberhentian... ketika sudah tiba pada tujuan bisa saja akan menjadi pemberhentian kita dan tak melakukan perjalanan lagi, atau kita hanya sekedar singgah disana... �� dan semua itu memang sudah ada yang mengatur skenarionya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul kak, makanya kita jadi baik ya sebelum tiba di pemberhentian

      Hapus
  11. Wah baca ini jadi refleksi diri ya, semoga kita semua cerdas menyiapkan hidup setelah kematian.

    BalasHapus
  12. Pinjem bukunya dong mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ga ada nin, pertama kali baca cerpen ini di perpustakaan... haha

      Hapus
  13. Separah-parahnya sebuah perjalanan, akan ada suatu masa di mana kita kembali melihat ke belakang dan mengingatnya sebagai suatu kenangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, setiap yang berlalu akan menjadi kenangan

      Hapus
  14. Pergi dan tak kembali. Jadi tinggal di Negeri Senja ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, negeri senja itu adalah surga

      Hapus
  15. ke yogja kemarin, duh ga bisa jejalan, cuma ngendon di hotel saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah sayang banget kak, harusnya nambuh satu hari lagi di Jogja... haha

      Hapus

Terima Kasih Sudah Meninggalkan Komentar. Mohon tidak meninggalkan link hidup 😊